Wayan Supadno
Sungguh, saya termasuk orang sangat beruntung, puji syukur. Walaupun saya lahir di keluarga sangat sederhana di Curah Jati Banyuwangi. Tanahnya subur, masyarakatnya majemuk rukun sekali ada 5 agama.
Kampung kecil tersebut berbatasan langsung dengan hutan jati milik PT Perhutani bagian selatan, barat dan parsial utara. Merupakan transmigrasi lokal asal Wates DIY, tahun 1921. Budayanya nuansa Jawa. Bukan Osing
Saat kecil di SD Katolik di desa tersebut. Tiap Senin dan Kamis dapat susu segar gratis hangat. Baris antri. Tapi banyak murid tidak mau hingga muntah – muntah, sisa banyak. Itu jadi jatah saya minimal 6 gelas.
Pulang sekolah
menggembalakan kerbau ke hutan jati. Tiada hari tanpa makan sate bekicot/keong hutan jati banyak sekali . Ramai dengan teman-taman ada yang membakar belalang jati. Sangat membahagiakan.
Kadang tidur di panggung di atas kerbau. Kandang sapi banyak tumpukan kulit batang kedelai cadangan pakan sapi. Banyak ayam mengeram di sana. Sehingga tiada kekurangan protein hewani dari ayam dan telur.
Malam hari, apalagi saat liburan sekolah. Sering lomba mencari belut di saluran-saluran sawah. Ikan tawar juga dapat banyak. Belum lagi kalau gendurenan juga pasti ada ingkung ayam. Kesemua di atas sumber protein hewani.
Saat SMP Kalibaru Banyuwangi dan SMA 1 Singaraja Bali saya kos jauh dari Desa Curah Jati kampung saya. Masak sendiri. Tiap pagi dan sore rutin telur dari kampung. Karena keadaan ekonomi orang tua. Harus hemat.
Di tempat kos, selalu pagi dan sore saya menikmati “susu kadaluarsa gratis” dari balai desa bantuan WHO atau FAO. Bude saya petugas di balai desa susu minim serapan. Banyak mengeras sebesar bola volly.
Saya keroki dengan pisau dapur dan sendok makan lalu direbus sampai matang betul. Itu berjalan ada 6 tahunan. Hingga maniak susu karena disiplin tiap pagi sore malam mau belajar.
Buah-buahan dan sayur, sama sekali tidak pernah kekurangan sejak kecil. Karena hidup di pedesaan yang pada tekun bertani. Di belakang rumah ada mangga, pisang dan lainnya. Selalu matang tiada habisnya silih berganti.
Setelah besar baru sadar pentingnya protein hewani dan vitamin. Setelah saya kuliah prodi kesehatanan di Universitas Airlangga Surabaya. Apalagi makin paham sejak jadi perwira kesehatanan militer.
Ilmu hikmahnya sadar, sebab utama stunting kerdil anatomi dan rendah IQ karena kurang protein hewani. Konkretnya Indonesia saat ini IQ hanya 78,5 dan tinggi rerata hanya 158,6 cm. Itu karena prevalensi stunting 15 tahun silam 36% dan saat ini masih 20,6%.
Itulah salah satu sebab utama saya selama ini bisnisnya bidang pangan utama. Ada ternak sapi ratusan ekor mau ribuan ekor, harga daging saya turunkan dari Rp 175.000/kg jadi Rp 130.000/kg. Masyarakat senang protein hewani terjangkau.
Ikan patin tiada hari tanpa panen sehingga harga bisa saya turunkan dari Rp 38.000/kg jadi Rp 22.000/kg. Harga jual turun sangat bermanfaat bagi masyarakat hemat biaya hidup. Lapangan kerja tercipta dan daya beli.
Itulah sebab saya selalu mengajak anak muda agar gemar usaha di bidang pangan. Masa depannya cerah penduduk kita sebagai pasarnya sebentar lagi 300 juta jiwa, eman jika impor, keenakan petani peternak luar negeri.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630