Wed. Jan 14th, 2026

BALI LUPA DIRI

ByWayan Supadno

Sep 14, 2025

Berikut ini kisah pengalaman saya pribadi, bisa diambil ilmu hikmahnya. Bahan pembelajaran kaji ulang. Artikel ini karena kecintaan yang pekat hati saya ke Bali. Tiada maksud menyalahkan siapapun juga.

Tiap kali saya liburan ke Bali. Selalu minimal ada 5 orang menawari saya tanah. Baik kapling siap bangun atau hamparan bisa dibuat villa atau apapun juga. Beragam ukuran dan harganya.

Yang menjual tanah kapling banyak yang bekas sawah dulunya jadi tempat menanam padi, palawija dan lainnya. Dikeringkan, dirajang dalam site plan dan ditimbun jadi jalan.

Agar kering, aliran air utama Subak Bali. Dibendung dan ditimbun. Tidak berfungsi total. Karena hulunya sudah duluan jadi villa dan perumahan. Ngenesnya lagi, pemilik asal bukan jadi penikmat passive income jangka panjang.

Ibaratnya sudah puas jadi penonton atau paling puas jadi penabuh gamelan. Penarinya orang non asli Bali. Baik domestik maupun asing. Yang tidak terpakai, kembali melestarikan tabiat “metaji”.

Yang menjual tanah untuk villa keluarga banyak lokasi pinggiran tebing curam atau bahkan pinggir daerah aliran sungai (DAS) yang menurut UU itu milik negara. Tidak boleh diperjual belikan.

Faktanya, sudah terlalu banyak villa di lereng tebing, sawah dan lahan DAS. Artinya pada sukses jadi marketer balik nama kepemilikan lahan di Bali. Dulunya hijau asri produktif sosial, ekologis dan ekonomis.

Termasuk di Jatiluwih Tabanan sekitarnya. Telah banyak berubah dari waktu ke waktu. Karena saya rutin berkala disiplin sejak 2008 ke Pura Muncak Sari Tabanan. Puranya para petani seperti saya.

Sejujurnya, mata hati saya pedih melihatnya. Bathin saya menangis. Kok Bali lupa jati dirinya. Masyarakat Bali tidak amanah dengan pesan Leluhurnya agar ajaran Hindu hal Tri Hita Karana dipraktikkan bukan cuma dihafal saja.

Betul dugaan saya semula jika ada hujan lebat akan menuai apa yang selama ini dilakukan. Beberapa hari lalu Bali diajari oleh Alam Semesta. Banjir hingga memakan korban jiwa dan banyak harta.

Yang saya tahu dulu saat SD masyarakat Bali begitu harumnya di mata Umat Hindu di Jawa. Makanya orang tua saya menyuruh agar saya studi di SMA 1 Singaraja Bali. Agar belajar banyak hal agamis dan bijak cerdasnya orang Bali.

Kedua anak saya juga saya minta studi S1 dan S2 nya di Bali, sudah lulus semua. Anaknya adik saya ke 3 nya juga masih S1 di Unud Bali juga. Sayangnya makin banyak yang “meboya” saja. Bukan praktik dalam keseharian.

Lucunya lagi, saat banjir fatal masih asyik menyalahkan alam hujannya intensitas tinggi. Bukan jadi bahan “diskusi dengan hati” dalam keheningan apa sebab ini terjadi? Kenapa korbannya rumah di lahan DAS terbanyak?

Pertanyaan klasik saya, andaikan terus ini terjadi semua sukses jual tanah, apa jadinya Bali? Andaikan semua sukses menghadirkan investor, apa jadinya? Andaikan Jatiluwih tinggal dongeng belaka, apa kata anak cucu kelak?

Perlu juga saya mengingatkan Bali sudah populer bukan cuma budaya dan Hindunya saja. Tapi juga telah populer karena sampah, macet, kriminal meningkat, “bah penjor” dan bunuh diri persentase Juara Nasional akibat apa ?

Ilmu hikmahnya, bahwa ternyata abadi kebenaran Ajaran Hindu hal Tri Hita Karana dan Tri Kaya Parisudha jika sudah terlanjur jadi yang tuakan, maksudnya harus konsisten antara manacika wacika dan kayikanya. Tat Twam Asi andai kita jadi masyarakat kecil, kecewa atau tidak?

Ampure nggih… Matursuksma.

Rahayu 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani Alas Purwo
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *