Wed. Jan 14th, 2026

Wayan Supadno

Artikel singkat ini cuma ilusi/fiksi. Apabila kisah di bawah ini persis atau menyerupai situasi sesungguhnya, tidak perlu disikapi dengan emosi, mawas diri saja. Itu faktor kebetulan.

Dalam seminggu ini begitu dinamisnya di negeri ini. Misal demo di Kab. Pati, demo anarkis, reaksi Amerika Serikat terhadap anak-anak Indonesia yang studi di sana dan pergantian menteri.

Lalu melahirkan produk turunan jadi bahan “gorengan opini publik oleh politisi” yang tiada henti. Bergulir terus seperti bola salju makin membesar. Ini konsekuensi logis dari demokrasi.

1). Kondisi Fiskal.

APBN mengalami defisit, nilai besar. Karena penurunan pendapatan negara baik dari pajak maupun bukan pajak. Implikasinya transfer ke pemerintah daerah dikurangi. Pemda improvisasi cara cari dana menaikkan pajak.

Itu salah. Harusnya pendapatan asli daerah (PAD) non pajak. Rakyat sedang susah walaupun pertumbuhan ekonomi 5,12%, tapi dominan tidak ikut menikmati. Para pejabat “kurang etis” berjoget ria pamer kemewahan palsu.

Rakyat marah. Investor pada kabur. Termasuk katanya investor raksasa peternakan sapi dari luar negeri yang selalu dibunyikan oleh menteri sampai bising, tiada bukti. Cipta lapangan kerja dan pajak, tertunda.

2). Pergantian Menteri.

Pasti ada latar belakang dan maksud tujuan Presiden Prabowo mengganti. Setidaknya demo anarkis sama artinya mengusir para pebisnis yang mau investasi, ini sangat merugikan negara saat banyak pengangguran.

Itu tanda gagal cegah tangkal oleh pejabat berwenang. Yang menggelikan lagi, ada menteri baru bicaranya melampaui lazimnya. Dianggap sombong dan lainnya. Karena masyarakat jenuh janji narasi, inginnya bukti.

Tanpa sadar bunga utang Rp 552,1 triliun dan utang jatuh tempo Rp 800 triliun tahun 2025 ini. Saat pendapatan negara turun drastis akibat banyak pabrik tutup tanpa setor pajak dan demo tambang lalu tanpa royalti untuk negara.

3). Swasembada Pangan.

Memang luar biasa ekspansifnya dalam membangun sawah baru hingga APBN harus mendanai besar-besaran. Lalu surplus beras 4 juta ton. Tapi lupa bahwa dunia bisnis rentan dengan intervensi politik.

Beras berlimpah, tapi harganya mahal. Ironisnya lagi stok beras di Bulog dari impor juga masih banyak akan terancam busuk, ruginya bisa triliunan. Ironis lagi penggilingan padi banyak apatis.Takut dikasuskan.

Situasi ini “peluang emas” bagi koruptor terancam ditangkap dan asing yang dirugikan dengan program hilirisasi. Masyarakat lapar dan menganggur mudah marahnya. Tinggal dimodali dengan “uang recehan”, bergerak sesuai selera pemesannya.

4). Bandar Politisi.

Sudah tidak asing lagi isu politisi hampir selalu punya bandar atau donaturnya. Tentu tiada makan siang gratisan, pasti ada imbalannya. Entah itu mengamankan aset bisnisnya, UU terkait peluang bisnisnya atau apapun asal “win-win solution” lah.

Misal terkait tambang, hampir selalu pemain tambang pada makmur. Ada apa di balik itu? Sehingga tidak perlu heran jika di Gedung DPR RI banyak yang berjoget ria, karena merasa menang. Entah menang dengan siapa. Ehm !

Kesimpulan, menang perang paling murah adalah strategi adu domba, waspada. Cashflow negara adalah nadinya negara, hati-hati. Tapi perlu diingat, soliditas dalam optimisme produktif mampu mengalahkan kepintaran yang dimiliki si pemalas.

Salam Integritas 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *