Wayan Supadno
Agar mudah dipahami dan dapat ilmu hikmahnya, berikut ini kisah saya sendiri di perusahaan milik saya dalam praktik efisiensi. Karena sangat penting, untuk negara kita yang sedang menerapkan efisiensi.
1). Integrasi Sawit Sapi.
Sekalipun kebun sawit saya tidak luas, tetap efisiensi agar harga pokok produksi (HPP) rendah sehingga laba tambah, lalu dapat modal untuk ekspansi. Bisa makin luas walaupun tahun 2008 masih nol besar.
Pupuk NPK yang bahan bakunya impor, agar bisa direduksi. Maka sebagian memakai pupuk kandang feses urine sapi diperkaya biang mikroba Bio Extrim dan Hormax. Ini sangat penting selain menaikkan C organik kesuburan lahan.
Sehingga mikroba penambat N yaitu Azospirilum, Azotobacter dan Rhizobium berbiak pengganti urea. Strain mikroba pelarut P dan K Pseudomonas dan Bacillus juga harus berbiak mengganti KCl dan SP36.
Agar murah atau gratis, saya integrasikan dengan sapi hingga ratusan ekor target ribuan ekor tahun 2025 akhir. Begitu juga sebaliknya, agar HPP sapi murah dan efisien pakannya limbah sawit, bungkil dan solid sawit.
Implikasinya, harga daging sapi di Kalteng bisa berubah total dari Rp 175.000/kg jadi Rp 135.000/kg. Pangan bermutu untuk masyarakat lebih terjangkau. Tapi saya tetap dapat laba sehat. Bisa cipta lapangan kerja ratusan keluarga.
2). Mekanisasi dan Drone.
Dulu untuk muat sawit saja butuh 40 orang tiap hari, sekarang saya ganti Loader. Ini menekan HPP dari Rp 25.000/ton jadi Rp 7.000/ton, hemat Rp 18.000/ton setara Rp 3,6 juta/hari atau Rp 1,2 miliar/tahun.
Untuk validasi populasi dan mutu tanaman sawit, durian, jeruk dan alpukat. Dulu melibatkan puluhan orang. Boros sekali. Sekarang hanya 2 orang dan Drone agar tiada sejengkal tanah menganggur, semua tertanam. Hemat miliaran.
Implikasinya, makin efisien. Laba sehat, untuk menambah populasi sapi menyuburkan lahan dan masyarakat latah ikutan ternak sapi beli dari saya (PT BJA/BJA Farm). Keterampilan masyarakat terdongkrak sejahtera.
3). Ikan Patin.
Dulu 100% pakannya beli pabrikan tentu mahal HPP tinggi. Sekarang saya efisiensikan parsial pakan dari produksi sendiri pakan afkir limbah nelayan saya jadikan pellet. Pemberdayaan masyarakat.
Implikasimya, laba saya tetap sehat. Masyarakat dapat “protein hewani kaya Omega 3 ” ikan patin agar tiada stunting penyebab kerdil dan retardasi mental. Harga berubah dari Rp 38.000/kg jadi Rp 22.000/kg saya jualnya.
Ilmu hikmahnya, bahwa negara juga ” harus” menerapkan efisiensi. Terbayang oleh saya jika PTPN yang luasnya hampir sejuta hektar dan PT Agrinas Palma Nusantara/Danantara luas sawitnya 3,8 juta hektar. Jika efisien akan ribuan triliun laba/tahun sumber APBN non pajak.
Salam Efisiensi🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630