Wed. Jan 14th, 2026

Wayan Supadno

Ilustrasi dan kisah nyata di bawah ini, bisa dimaknai sebagai penjabaran judul di atas. Lalu kita ambil ilmu hikmahnya. Kadang, diam adalah jawaban terbaik dan kerlingan mata setara dengan teguran “aba-aba permainan panas” dimulai.

Seorang komandan, hemat sekali bicaranya, kalau bicara seperlunya saja karena melalui proses ketat penyaringan dalam hati untuk perasaan dan dalam pikiran untuk logika. Agar produk bicaranya bermutu dan bermanfaat.

Sering cara menegur cukup dengan tatapan dan kerlingan mata saja. Konkretnya, jika ada staf bawahan pakaiannya tidak rapi, rambutnya acak-acakan hanya cukup dengan “tatapan mata” beda. Kontan dirapikan.

Itu kalau skala perorangan untuk komunitas di bawahnya. Banyak memakai sandi dan bahasa tubuh multi tafsir agar lainnya pada tanggap dan menjabarkan apa makna maunya. Hemat energi dan lainnya. Efektif efisien.

Sama halnya, seorang Rektor di Kampus tertentu karena nama kampusnya sudah besar dan harum. Tapi sayangnya pola didik karakter ke anak muda mahasiswa dan bawahannya “kurang berkelas”. Belum sepadan.

Misal sampah berserakan, rumput liar dibiarkan, barang-barang bernilai uang APBN pajak rakyat untuk membangun tapi tanpa perawatan dan lainnya. Ini “kontradiktif” dengan misi pendidikan.

Kesannya, yang penting pintar dan punya gelar akademik saja. Tapi “karakter peduli, mental antusias” diabaikan saja. Padahal ini pangkal kemandiriannya kelak. Mental peduli, terasah karena lingkungannya.

Bagaimana kerlingan mata skala besar global ?

Beberapa tahun ini Indonesia telah menabuh “genderang hilirisasi” hasil bumi Indonesia, agar dapat nilai tambah besar. Bahkan hingga disiarkan ke semua negara di atas bumi ini. Ekspor bahan mentah di stop.

Efek dominonya, banyak negara industri yang sudah lama maju labanya besar jangka panjang selama ini. Mereka pada terancam tutup industrinya, akibat tidak punya bahan baku. Karena selama ini impor dari Indonesia.

Artinya negaranya akan terguncang tanpa banyak lagi pendapatan pajak dari industrinya. APBN nya akan terkoreksi. Neraca perdagangan internasional, apalagi ini pasti mumet. Hulunya lagi akan ada PHK massal.

Tentu daya beli ambruk karena pengangguran dan kemiskinan terbentuk. Stabilitas keamanan terganggu dan seterusnya. Tentu “tidak tinggal diam” saja. Uji nyali mengganggu Indonesia. Sisihkan uang recehan dari laba besar selama ini.

Laba besar mereka impor bauksit, CPO, nikel, silika, kelapa, kakao, kopi dan lainnya diubah jadi barang jadi produk langka bernilai tinggi. Praktik inovatif “kompleksitas ekonomi” membumi. Beli bahan baku Rp 1.000 diproses jadi Rp 100.000, itu ibaratnya.

Labanya buat beli saham majalah di Indonesia yang pembacanya banyak. Bila perlu para orang pintar tapi pengangguran di Indonesia didanai agar bakatnya tersalurkan. Jadi kreator hoax di medsos ribuan link. Untuk adu domba masyarakat Indonesia.

Karena orang barat tahu persis orang Indonesia mudah diadu domba dan mengadu domba. Buktinya Belanda negara kecil saja bisa menguasai Nusantara ratusan tahun, padahal modalnya cuma adu domba. Itulah kerlingan mata ala barat. Waspada .

Salam Setia 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *