Wed. Jan 14th, 2026

Artikel singkat ini saya tulis, hanyalah ilusi belaka, bukan riil. Hanya bahan pembelajaran saja, karena dapat ilmu hikmahnya dari kejadian demo anarkis beberapa hari lalu. Ditulis karena kecintaan saya kepada negeri ini.

Jika ada kesamaan dengan kisah nyata seseorang atau kelompok tertentu, itu hanya kebetulan belaka, abaikan tidak perlu diambil hati hingga pusing tujuh keliling, cukup mawas diri. Untung digagalkan rencana kejahatan skala besarnya.

Ilustrasi, di sebuah desa. Selama ini puluhan tahun ada beberapa orang pemborong jalan dan lainnya dana desa. Selalu “ramah lingkungan”, korupsi kepada beberapa staf kantor desa, rutin berkala jangka panjang.

Lalu beberapa staf kantor desa kredit kendaraan dan rumah, angsurannya dari hasil korupsi yang diterima dari para pemborong nakal tersebut. Setelah ganti Kepala Desa, semua tindakan menyalahi hukum dan mark up proyek tersebut dihentikan total.

Pasti kenyamanan para staf kantor desa macet “side income” korupsinya. Macet kreditnya. Para pemborong yang nyaman terganggu. Harta pemborong banyak dari kumpulan labanya. Membuat gejolak anarkis mau mengganti Kepala Desa baru tersebut.

Begitulah “mungkin” yang terjadi mulai tingkat desa, kabupaten, provinsi hingga di pusat Jakarta. Hanya beda skala saja. Mainannya tidak jauh beda. Marah karena kenyamanan jahatnya terganggu mau distop total. Mendingan menabur recehan uji nyali anarkis.

Konkretnya, Indonesia impor BBM Rp 600 an Triliun/tahun. Mulai tercium mainan nakalnya oleh Presiden Prabowo mafia tersebut. Mau distop total. Padahal laba selama ini minimal Rp 60 Triliun/tahun jika 10% saja. Itu yang legal saja, belum laba kapal kencing BBM. Ehm!

Hanya sekelas uang recehan kalau mendanai tukang sebar hoax di medsos dan nasi bungkus demo anarkis saja. Anggap Rp 200.000/kepala, kalau 10 juta orang pendemo anarkis hanya setara Rp 2 Triliun saja. Tak ubahnya Rp 2 juta saja bagi sekelas saya Pak Tani.

Begitu juga pemain sawit ilegal dan tambang ilegal luas jutaan hektar, yang sedang ditertibkan oleh Presiden Prabowo. Kaliber labanya juga triliunan. Kalau mereka diganggu atau disita, tentu tidak nyaman. Bisa jadi mereka iuran. Agar rukun uji nyali. Hehe.

Masih sangat banyak lagi ekosistem bisnis abu-abu yang lagi ditertibkan. Utamanya pada sektor pangan impor daging beku legal maupun ilegal, beras oplosan, dan lainnya. Semua labanya tidak akan kurang dari triliunan. Bukan ecek-ecek kelas Pak Tani saya ini.

Sudah juga kontrak kesepakatan dengan oknum pembuat UU atau rekomendasi pemberi kuota impor. Jika mereka terganggu. Pasti juga terancam, tak ubahnya staf di kantor desa tersebut. Hanya beda skala saja. Polanya tiada beda. Mental koruptifnya berjemaah.

Kesimpulannya, sungguh sangat sulit memberantas kejahatan sistemik koruptif di negeri ini. Dibutuhkan “nyali patriotik dan kesatria sejati” kalau mau memberantasnya. Butuh kesungguhan dari semua warga yang terpimpin oleh Kepala Negara Indonesia.

Salam Bernyali 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *