Artikel ini hanyalah narasi hasil analisis non tendensi, dari saya sendiri karena menyimak situasi terkini di negeri ini. Demonstrasi nuansa anarkis di banyak daerah. Kita rugi sendiri. Karena kepongahan, berdampak pada kemarahan.
Berikut ini beberapa kejadian nyata wujud sebuah kepongahan atau kesombongan atau keangkuhan . Jauh dari etika manusia yang berhati nurani. Terjadi demoralisasi di “negeri religius” ini, justru oleh oknum para pemimpinnya. Memprihatinkan.
1). Kontradiktif dengan situasi.
Beberapa bulan lalu, saat Bulan Suci Ramadhan, saya dapat undangan dari Gubernur. Sengaja saya tidak mau hadir, karena trauma ingat acara serupa. Bagai pesta pora berlebihan mewahnya. Padahal itu uang dari pajak rakyat jelata.
Hingga detik ini saya ingat persis detail kegiatan pada tahun sebelumnya. Makanan super mewah dan berlebihan banyaknya hingga banyak terbuang. Buah hidang yang disajikan yang meriah 100% dari impor. Bukan karya petaninya. Menyakitkan sekali.
Beda yang didakwahkan pada acara istimewa tersebut, intinya berpesan agar para pemimpin jadi suri tauladan dalam kesederhanaan dan terdepan mengatasi kesulitan rakyatnya. Kontradiktif. Munafik.
2). Narasi menyulut api kebencian.
Semua tahu di medsos banyak narasi menyulut kebencian. Justru oleh pemimpinnya, di antaranya Bupati Kab. Pati, Anggota DPR RI dan lainnya. Seakan mewakili kondisi riil para pemimpin tabiat hariannya jelek memuakkan.
Mempertontonkan, ternyata kita salah memilih mereka jadi pemimpin. Jadi ingat semua saat pemilu mereka jadi “pengemis dan pembeli” suara rakyat. Tindakan aib tidak terpuji, tapi terpublikasi di televisi pengakuannya dengan arogansi. Ironis.
Cerminan sikap yang jauh dari amanah yang diharapkan rakyatnya. Tutur kata non religius, kasar dan sarkasme. Pamer hasil korupsinya, harta mewah berlebihan. Lupa bahwa masyarakat juga punya mata telinga dan perasaan, bisa marah.
Dampaknya kita bisa saksikan sendiri demonstrasi di mana-mana nuansa anarkis dan penjarahan. Makin sedap lagi karena ada bumbu perlakuan “tidak humanis” oleh oknum anggota Brimob dan provokator di medsos.
Ini “peluang emas” bagi pihak asing dan oknum kolompok tertentu yang memang punya target agar Indonesia gagal. Tinggal menunggangi saja agar makin amarahnya membara. Tinggal kita mau sadar atau tidak dengan potensi resiko teramat besar ini. Waspada ini.
Ilmu hikmahnya, kepongahan kadang memang tanpa sadar muncul pada kita. Tapi jika kolektif saat rakyat sedang letih menghadapi perekonomian yang sulit saat ini, akan memancing emosi. Saatnya mawas diri, kendali diri dan tahu diri. Malu sekali.
Kalau saya pribadi, lebih suka tetap berusaha konsisten membekali Anak Muda Indonesia dengan cara berbagi iptek inovasi dan pengalaman pribadi jadi pebisnis inovatif. Agar pada jadi Insan pencipta lapangan kerja, sebagai solusi konkret masalah bangsa kita ini.
Salam Setia 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630