Wayan Supadno
Sering kali orang bertanya, bagaimana cara mengelola usaha jarak jauh apalagi yang dipimpin banyak yang latar belakang pendidikan formalnya di atas kita. Kalau dibayangkan memang sulit, tapi kalau dipraktikan tiap hari akan mumpuni juga.
Tak ubahnya para sahabat saya sesama pengusaha. Mereka banyak yang hanya alumni sarjana, D3 bahkan SLTA. Tapi stafnya banyak yang alumni pasca sarjana, buktinya bisa dan usahanya makin berkembang. Bermanfaat bagi masyarakat.
Tak ubahnya saya sendiri. Saat punya rumah sakit dan beberapa klinik apotek. Mau atau tidak mau, bisa atau tidak bisa. Harus bisa memimpin para dokter spesialis, dokter umum, apoteker, akuntan dan lainnya. Nyatanya bisa saya jalani dengan belajar.
Begitu juga saat ini. Ada usaha pabrik pupuk Organox, Bio Extrim dan Hormax. Sawit, peternakan sapi dan lainnya. Banyak yang pendidikan formalnya di atas saya. Di bidang masing-masing. Itu bukan masalah asal bisa jadi suri tauladan lapangan.
Bagi saya asal bisa menempatkan diri, niscaya yang lain juga akan tahu diri dan menyesuaikan harus bagaimana memperlakukan diri di tengah tim kerja. Kata kunci, kita sebagai leader, tidak berhenti belajar langsung praktik lapangan.
Konkretnya, sekalipun saya jauh sedang di rumah Cibubur atau di Banyuwangi menjenguk Orang Tua. Usaha tetap jalan sesuai prosedur (SOP) nya. Semua kerja sesuai ruang lingkup tanggung jawabnya. Ekosistem di perusahaan kita bangun.
Tapi kalau cuma dibayangkan saja, umumnya takut duluan. Takut bayang-bayang dirinya sendiri. Takut kalau tim bawahannya tidak loyal atau tidak terkendali. Bahkan terlalu banyak yang kalah nyali duluan, takut ditipu berjemaah, misalnya.
Padahal dalam Bahasa Jawa “Tinemune ilmu kanti laku/Ketemunya ilmu jika sudah dijalani”. Atau bahasa populernya “Ilmu Titen/Ilmu Tanda” artinya apa yang dikerjakan ditandai dan dingat mana yang salah dan benarnya.
Apa yang sudah dijalani ternyata benar dan produktif, itulah yang diulangi berkali-kali sampai refleks dan skill. Terus konsisten diperbesar kapasitas skalanya. Sebaliknya, apa yang dijalani gagal, itu ditandai untuk “tidak diulangi” lagi.
Konkretnya, memberi pakan sapi dengan formula pakan A, ternyata tiap hari hanya tambah bobot 1 kg. Tapi formula B, bisa tambah 1,5 kg/ekor/hari. Padahal biaya sama. Itu dititeni/ditandai. Lalu diperluas skalanya pakai formula B, agar labanya besar.
Ilmu hikmahnya, bahwa tidak perlu anak muda yang kebetulan pendidikan formalnya kalah dengan bawahannya lantas takut duluan. Yang penting karakter dan kapasitas kepemimpinan kita mumpuni. Bisa jadi tauladan. Dengan begitu niscaya akan loyal total sesuai harapan kita.
Untuk itu, anak muda Indonesia mari kita membangun nyali berani mengawali bisnis. Pembeda orang sukses dalam bisnis dengan yang gagal total, padahal cita-citanya sama. Terletak pada mental berani mengawali dan konsisten membekali diri tiada henti.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630