Pebisnis di Indonesia jumlahnya tergolong rendah, hanya 3,47%. Kalah dengan Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Itulah sebab pendapatan per kapita (PDB/kapita) hanya USD 5.200 setara Rp 7 juta/kapita/bulan. Kalah dengan Singapura, Malaysia dan Thailand.
Berikut ini uji petik, ilustrasi dari beberapa pebisnis sebagai investor pencipta lapangan kerja, pembayar pajak besar, lokomotif perekonomian masyarakat dan implikasi lainnya. Silahkan diambil ilmu hikmahnya. Pembelajaran agar kita giat melahirkan pebisnis baru.
1). Industriawan Agro Inovatif.
Memiliki pabrik singkong dan ubi rambat 98% produknya kripik vakum ekspor. Hilirisasi invensi teknologi pangan. Memperkuat rupiah kita. Karyawannya 600 an orang mulai sarjana teknologi pangan, akuntansi dan lainnya. Petani plasmanya 3.000 an keluarga, vendor bahan bakunya, senang dapat kepastian pasar.
2). Industriawan Peternakan Sapi.
Memiliki bukan hanya peternakan sapi saja, tapi integrasi dengan rumah potong hewan (RPH), industri pentol bakso, toko daging segar di beberapa lokasi dan eksportir kulit sapi ke Jepang minimal 15.000 lembar/tahun sesuai jumlah sapi yang disembelih. Karyawannya 700 an orang. Belum dari supplier pakan sapinya.
3). Pemborong Perkebunan.
Memiliki usaha fokus pada alat berat dozer dan excavator, jumlahnya sekitar 30 an unit. Merawat dan meremajakan sawit dan pekerjaan umum Pemda. Memberdayakan dana bank Rp 500 an miliar. Bank dapat laba, untuk gajian karyawan dan membayar bunga tabungan maupun deposito. Omzet Rp 50 an miliar/tahun. Konkret jadi lokomotif perekonomian.
4). Pengembang Perumahan.
Fokus jadi solusi terhadap jutaan masyarakat belum punya rumah. Minimal 10.000 unit rumah/tahun laku terjual KPR bank kerja sama dengan perusahaan yang punya karyawan banyak tapi belum punya rumah. Toko bangunan laris, pabrik semen, besi dan lainnya dapat omzet untuk gajian dan membayar suppliernya.
5). Industriawan Pengalengan Ikan.
Fokus produknya hanya diekspor, dapat dolar, melemahkan dolar dan menguatkan rupiah. Bahan bakunya ikan dari nelayan dan bumbunya dari para petani cabai, tomat dan lainnya. Tidak kurang dari 1.000 keluarga punya pendapatan rutin baik jadi karyawan, vendor maupun transporter, petani dan lainnya. Daya beli masyarakat naik karena pebisnis tersebut.
Jika kita mau membuat tabel data 5 pebisnis tersebut. Bisa dapat sebuah resume menarik bahwa pebisnis konkret jadi solusi masalah bangsa kita.
1). Berapa ribu keluarga dapat kerjaan dan pendapatan lalu daya belinya naik bisa hidup jauh lebih sejahtera dibandingkan sebelumnya hanya jadi pengangguran lalu hidupnya numpang ke pihak lain, padahal “hanya” dari 5 orang pebisnis tersebut? Bisa dibayangkan jika kita sejak dini di rumah mau mendorong putra putri kita agar bernyali mulai bisnis.
2). Berapa ribu keluarga petani, peternak, nelayan dan sopir dapat kepastian pasar lalu mereka semangat berproduksi lagi untuk memberdayakan kekayaan alam kita yang berlimpah, hanya karena “peran” 5 orang pebisnis investor tersebut ? Bisa kita bayangkan jika ada 10.000 lagi pebisnis investor sekelas mereka. Tiada lagi pengangguran di negeri ini.
3). Berapa banyak hasil penelitian para peneliti yang jadi inovasi membumi, bermanfaat nyata bagi masyarakat luas, mulai bahan baku prosesnya hingga kemasan maupun pemasarannya ? Sungguh tidak bisa kita bayangkan akan berapa banyak lagi hasil penelitian terserap jika ada 10.000 orang pebisnis baru. Tiada perlu lagi ada dana nganggur parkir Rp 8.600 Triliun di bank non produktif.
Ilmu hikmahnya, sungguh sangat penting kehadiran pebisnis baru. Itulah sebab semua negara berlomba melahirkan para pebisnis baru. Konkretnya Singapura tanpa punya kekayaan alam, tapi pebisnisnya banyak 8,76% berimplikasi pada daya beli tinggi karena PDB/kapita USD 92.000, setara Rp 113 juta/kapita/bulan atau 16 kali lipatnya Indonesia. Karena Singapura banyak pebisnisnya.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630