Wayan Supadno
Artikel ini, “cuma ilusi”, jika ada kemiripan dengan kejadian sebenarnya. Itu hanya kebetulan saja. Tidak perlu ditanggapi dengan emosi, cukup dengan solusi konkret saja. Kalau benar cinta negeri ini.
Sulitkah memberantas korupsi? Iya, memang sangat sulit. Karena para koruptor sudah terlanjur punya bekal dana segar jumlah besar dari hasil korupsi. Juga jumlah banyak pelaku korupsinya. Bukan tunggal atau segelintir orang saja.
Ilustrasi kalkulasi logisnya, selama ini mereka sudah sangat nyaman dengan ekosistem korupsinya. Jika itu diganggu dengan kebijakan dan diancam mau ditangkap dan dipenjarakan. Oh nanti dulu. Kita berhitung kekuatan dulu.
Caranya sangat mudah, cukup iuran 4 orang koruptor kelas kakap triliunan dari laba 2 minggu saja dapat Rp 2 Triliun. Diborongkan ke barisan sakit hati, lawan politik atau yang kalah pilpres. Selesai sudah. Terkendali daya tawar politiknya.
Konkretnya, dana Rp 2 Triliun, ditarget harus demo di jalanan selama 10 hari indeks jasa dan nasi bungkus Rp 200.0000/orang demonstran, itu setara dengan sejuta orang. Sudah meriah, sudah sangat mengganggu konsentrasi pimpinan negeri ini.
Apakah ada yang mau? Sangat banyak. Utamanya para pengangguran karena korban PHK massal, wisuda massal dan lulusan SLTA massal. Tinggal disulut sedikit dengan narasi data hoax, mereka akan cepat bergerak.
Karena pada dasarnya memang lagi marah akibat susah cari kerja, tapi legislatif aneh-aneh tingkahnya. Mereka tidak sepakat dengan pilihannya saat pemilu dan alasan lainnya. Disempurnakan pajak makin naik tajam, saat rakyat susah.
Contoh konkret ;
1). Impor BBM
Jumlah impor minimal Rp 600 Triliun/tahun. Jika laba 5% saja, setara Rp 30 Triliun. Itu hanya setahun, padahal sudah puluhan tahun. Kalau cuma jadi pemodal demontrasi kelas Rp 1 Triliun demi aman. Kecil itu. Hanya setara Rp 1 juta bagi saya.
2). Impor Kedelai dan Gula.
Jumlah impor kedelai 3,8 juta ton/tahun dan gula 5,3 juta ton/tahun. Jika laba bersih Rp 1.000/kg setara Rp 9,1 Triliun/tahun. Tidak peduli gula milik petani numpuk di gudang. Yang penting happy. Pertanyaan klasik, jika terancam apakah sulit iuran Rp 500 juta buat mendanai demo ?
3). Impor Daging Beku.
Setelah dikaji inilah “sebab utama” perusak peternakan sapi. Lalu dihambat, dibuka impor sapi hidup agar cipta lapangan kerja. Apa tinggal diam? Tidak ! Bisa impor ilegal dan lainnya. Karena labanya juga triliunan. Tentu semangat jika diajak iuran demo, agar kembali dibuka impor daging beku.
4). Penertiban Sawit dan Tambang.
Ini berita sangat menyakitkan di hati para pelakunya. Karena laba selama ini terlalu enak, juga merasa legal karena ada ijin prinsip dan lokasi dari Bupati. Walaupun belum pelepasan hutan dari pusat. Mereka juga pemilik modal besar. Recehan kalau cuma ikut beli nasi bungkus saja.
Tentu masih sangat banyak lingkaran kait mengkait satu dengan lainnya. Para koruptor belum terungkap tapi masih memakai seragam abdi negara. Mereka juga sudah terlanjur buat rencana pendapatan dan pengeluaran, tentu tidak mau terganggu juga.
Ilmu hikmahnya, sepanjang tanpa ada ketegasan dari pemimpin. Apalagi kalau “tidak bernyali” tampil terdepan. Atau takut kehilangan kursi, akan makin sulit memberantas korupsi. Solusinya kesadaran perorangan dibangkitkan, agama ada dalam perilaku, bukan hafalan belaka.
Apalagi jika warisan tabiat dari ribuan tahun silam yaitu suka diadu domba dan suka mengadu domba, masih belum bisa kita buang. Tidak mau bersatu. Maka negeri ini sulit majunya. Ingat, semua kerajaan masa lalu di nusantara ini, bubarnya karena bisa diadu domba dan korupsi.
Salam Integritas 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630