Wayan Supadno
Kisah di bawah ini banyak ilmu hikmahnya. Sekaya apapun harta/alamnya akan melemah dan bangkrut, kalau manusianya “tidak bermutu”, baik karakter maupun kapasitas teknisnya. Pengelolanya kelas “sampah menjijikan” saja. Memalukan seperti tanpa beragama, walaupun beragama.
Perkebunan Sawit.
Berasal dari warisan, tidak tahu sulitnya saat merintis memerdekakan dari nol agar punya sawit. Luasnya 12.000 hektar, pabriknya kapasitas 60 ton/jam dan lengkap sarana prasananya misal kendaraan truk, rumah karyawan dan lainnya.
Lazimnya laba 12.000 hektar x 25 ton TBS/ha x 25% rendemen CP0 x (Rp 17.500/kg harga CP0 – Rp 4.000/kg HPP nya) = Rp 1,1 Triliun/tahun laba bersih minimum dari CPO saja. Belum minyak kernel PKO, cangkang dan bungkilnya. Idealnya laba bersih Rp 1,3 Triliun/tahun.
Tapi bisa bangkrut. Karena pengelolanya nepotisme, orang dekat tidak mumpuni dijadikan General Manager gaji tidak lazim Rp 300 juta/bulan, tanciem Rp 600 juta/tahun. Para komisaris pesta pora “tidak” punya malu. Karyawan bawah UMR, rumah tidak terawat.
Kongkalikong semua, berjemaah menghancurkan perusahaan tersebut. Walaupun di kantor tersebut ada tempat suci suka lomba bisa bicara ayat suci. Konkret prosesnya. Bagian pengadaan minta jatah “pungli” kepada para vendor pupuk, BBM dan lainnya.
Satpam main mata dengan para mandor, tukang panen dan maling sengaja malam dimuat tapi dijual ke pabrik lain. Pupuknya pada dijual sebelum sampai gudang, karena petugas gudang mau disuap tanda tangan dan stempel gratis sekalipun truk kosong tanpa bawa barang.
Alhasil tanaman kurang asupan unsur hara, nyaris tiada pernah dipupuk. Kalaupun dipupuk hanya memakai pupuk NPK abal-abal. Tetap aman karena kepala pengadaan diam, suppliernya anaknya sendiri. Produksi jatuh. Makin merugi.
Tanaman, jalan dan pabrik makin tidak terawat rusak. Rumah karyawan parah rusaknya. Demotivasi semua karyawannya, karena gajian tidak lagi disiplin. Tiap hari judul pergunjingannya, para pemimpinnya. Batinnya menangis semua. Menyedihkan karena bagai lomba menghancurkan perusahaan kaya raya tersebut.
Sisi lain, kebun sawit milik orang lain yang tanpa berawal dari kebun luas serba ada pada menyalipnya. Labanya besar. Pada maju. Karyawannya makmur sejahtera. Jadi tempat pelarian para karyawan kebun gejala bangkrut tersebut. Para pemimpinnya tahu diri. Punya malu dan harga diri. Hidup bukan sekedar harta.
Arti judul di atas sangat jamak dan fleksibel, multi tafsir dan bisa jadi analogi. Kondisi di mana perusahaan melemah dan bangkrut karena praktik korupsi internal yang dilakukan justru oleh oknum pengelolanya. Bukan karena eksternal misal kalah bersaing, gejolak global dan bencana alam.
Proses terjadinya korupsi ;
1). Kesempatan terbuka. Sistem kontrol internal lemah, audit tidak ketat.
2). Motivasi individu. Karyawan/pejabat perusahaan ingin keuntungan pribadi.
3). Rasionalisasi. Mereka merasa “ini hal biasa”, “perusahaan besar tidak akan rugi”.
4). Aksi. Mulai dari kecil uang kas bon, manipulasi biaya meningkat. Penggelapan miliaran, proyek fiktif.
5). Kerusakan. Lama-lama perusahaan kehilangan modal, kepercayaan investor, reputasi hancur.
Bahaya korupsi dalam perusahaan
1). Kerugian finansial, uang perusahaan bocor.
2). Turunnya produktivitas, dana yang seharusnya untuk pengembangan dipakai oknum.
3). Hilangnya kepercayaan investor/pelanggan, reputasi buruk, saham jatuh.
4). Moral karyawan runtuh, muncul budaya permisif, “ikut-ikutan” korupsi.
5). Bangkrut, jika tidak dihentikan, perusahaan bisa tutup total.
Salam Integritas 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630