Wed. Jan 14th, 2026

Wayan Supadno

Berikut contoh konkret proses terjadinya serapan pengangguran. Yang dulunya tanpa dapat upah, hidupnya numpang pada orang lain. Berubah jadi mandiri lalu sejahtera. Tidak lagi berbuat kriminal. Harapan hidup tinggi. Silahkan diambil ilmu hikmahnya.

Peternakan sapi.

Baru saja beli lahan nganggur selama ini non produktif. Para pemilik lahan 65 an hektar, mau dijadikan kandang sapi dan segala fasilitasnya. Ada 100 orang pemilik asal pada gembira dapat uang masuk, bisa untuk belanja dan sekolah anak – anaknya.

Dilaksanakan pemerataan lahan. Melibatkan excavator, dozer dan bomax milik Dinas PUPR Kabupaten setempat dan pengusaha setempat. Itu saja sudah cipta lapangan kerja. Pemda dapat PAD, SPBU dapat omzet dari solar 1.000 an liter/hari. Ekonomi bergerak di masyarakat.

Kapasitas 8 ribuan ekor sapi. Kandang, gudang produksi pakan, rumah karyawan, klinik hewan, rumah potong hewan (RPH), industri pentol bakso dan lainnya. Rencana anggaran belanja (RAB) Rp 780 an miliar. Bank dilibatkan, implikasinya bank dapat laba untuk gajian karyawan juga.

Karena target paling lama 6 bulan harus operasional. Maka harus dibangun serentak pada semua sarana-prasarananya. Implikasinya butuh tenaga jumlah banyak sekitar 120 an orang tiap harinya, bersumber dari pengangguran. Ada yang jadi tukang, sopir, operator alat berat, arsitektur dan lainnya.

Konsekuensi logisnya. Butuh material bangunan. Misal semen, pasir, besi, seng, baja WF dan lainnya. Mereka toko dapat omzet dan laba besar untuk gajian karyawannya juga. Toko kehabisan stok lalu pesan lagi. Pabrik dapat omzet, juga buat gajian karyawannya juga. Kapal dan truk, dapat omzet buat gajian juga.

Semua tenaga kerja mulai di lahan pembangunan kandang sapi, di toko bangunan, transporter dan pabrik bahan bangunan tersebut, pada dapat upah. Itulah untuk belanja pangan, sandang, papan dan lainnya. Implikasinya toko pangan juga dapat omzet untuk gajian pegawai dan belanja bahan dagangan lagi.

Implikasinya petani, nelayan, peternak dan produsen pangan lainnya. Juga dapat omzet, produknya laku. Mereka senang bisa menyekolahkan anaknya, bisa menanam lagi, bisa melaut menangkap ikan lagi, bisa beli ternak lagi. Begitu juga pada sandang dan papannya. Ada daya beli naik.

Setelah kandang sapi jadi. Bukan berhenti cipta lapangan kerjanya. Justru makin permanen. Butuh dokter hewan, sarjana peternakan, akuntansi, ahli nutrisi pakan dan lainnya. Untuk sapi 8.000 an ekor setara menyerap pengangguran jadi pegawai tetap minimal 400 orang. Berubah dari pengangguran jadi produktif.

Tidak sampai di situ saja, produk turunan dari sapi akan membentuk peluang bisnis baru. Pada rumah potong hewan (RPH), industri pentol bakso, rumah makan penyaji rendang dan dendeng maupun sate. Begitu juga proses feses urine sapi jadi pupuk. Semua butuh tenaga kerja dari pengangguran. Minimal 500 an orang.

Kesimpulan bahwa inilah yang disebut piramida kolektif, pertumbuhan ekonomi terbangun tumbuh. Karena investasi lalu konsumsi naik, hasil produk turunannya diekspor wujud rendang kemasan jadi devisa rupiah jadi menguat, belanja pemerintah juga terjadi untuk PLN, aspal jalan dan lainnya.

Ilmu hikmahnya, kisah saya di atas bukti bahwa kehadiran saya pengusaha peternakan sapi lagi investasi ekspansi. Berimplikasi pada serapan pengangguran jumlah besar, daya beli masyarakat terdongkrak. Ekonomi nasional tumbuh karena ada upah untuk konsumsi keluarga, ada pesanan PLN ratusan juta bulanannya puluhan juta dan lainnya.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *