Wed. Jan 14th, 2026

Batasan kemiskinan sangat bervariasi. Tergantung cara menghitungnya. Tergantung juga pendapatan per kapita (PDB/kapita) dan harga barang di suatu negara. Tidak bisa disamakan satu negara dengan negara lainnya. Ini berimplikasi pada jumlah upah yang didapat pasti juga akan beda.

Konkretnya biaya hidup di Indonesia sangat berbeda dengan di Amerika Serikat, Jepang, Australia dan lainnya. Sehingga sangat berpengaruh pada daya beli dan jumlah penduduk miskinnya. Karena biaya hidupnya di negara tersebut berkali lipatnya di Indonesia.

Perhitungan sederhananya, dapat upah atau berpendapatan di Indonesia Rp 5 juta/bulan. Itu setara dengan dapat upah atau pendapatan di Australia Rp 50 juta/bulan. Karena biaya hidup di Australia 10 kali lipatnya di Indonesia.

Sering kaum pesimistis selalu mengatakan di Indonesia terlalu miskin. Padahal yang berkomentar bisa jadi tanpa ikut serta berbuat solutif. Pintarnya cuma menasehati, tapi tanpa bisa mempraktikkan apa yang dinasehatkan tersebut. Hanya sumber demotivasi.

Kemiskinan sulit diberantas karena tidak berdiri sendiri dan multi sebab. Misal, Amerika Serikat (AS) merdeka 1776 atau hampir 250 tahun, tapi kemiskinan di AS 11% lebih setara 38 juta orang. Di Jepang tanpa pernah dijajah, kemiskinannya 15% lebih.

Di Indonesia, kemiskinan data BPS Maret 2025 sebesar 8,47% setara 23,85 juta orang. Bank Dunia jika dianggap berpendapatan menengah ke atas sebanyak 68,2% setara 194,4 juta orang, tapi jika dianggap negara menengah ke bawah 60,3% setara 171,9 juta orang.

Bagaimana proses terjadinya kemiskinan ?

Karena saat bersamaan harga barang untuk biaya hidup naik tapi upah/pendapatan turun, atau harga barang tetap tapi pendapatan turun misal korban PHK, atau pendapatan tetap tapi harga barang naik. Situasi itu jadi sebab daya beli turun lalu kemiskinan tambah.

Daya beli turun karena pendapatan turun bahkan tanpa punya upah atau pendapatan akibat jadi pengangguran. Terjadinya pengangguran karena korban PHK atau karena tiada lapangan kerja yang sebanding dengan jumlah pengangguran.

Pengangguran terjadi penumpukan sampai massal karena terjadi PHK massal, sekaligus adanya wisuda massal di seluruh perguruan tinggi dan lulusan SLTA massal juga di seluruh Indonesia. Padahal yang cipta lapangan kerja (pengusaha) relatif tidak bertambah.

Tidak ada lapangan kerja, karena pengusaha yang ada tiada investasi atau ekspansi peningkatan kapasitas produksi yang membutuhkan tenaga kerja. Ini akibat kurangnya jumlah investor yaitu pelaku usaha atau akibat tiada ekspansi karena iklim investasi kurang baik.

Sisi lain, harga pangan, sandang dan papan terus naik. Utamanya yang bahan bakunya impor, ini akibat dari dolar menguat dan rupiah melemah dari tahun ke tahun. Konkretnya harga pangan naik karena pupuk dan pestisida naik, akibat dolar naik untuk impor pupuk tersebut.

Solusinya ?

Bangunlah SDM pencipta lapangan kerja yaitu pengusaha, ini kewajiban pendidikan mulai di keluarga, sekolah dan perguruan tinggi. Misal bekali jiwa entrepreneurship sejak dini, bangun mentalnya agar bernyali mengawali investasi bisnis, lalu membesar dan sibuk akhirnya cipta lapangan kerja.

Agar lahir pengusaha baru dan pengusaha yang ada mau investasi dan ekspansi harus dibangun iklim usaha yang merangsang, ini kewajiban pemerintah. Misal kemudahan perizinan, jalan, PLN dan lainnya. Agar kompetitif, hasil penelitian harus dihilirisasikan ke pebisnis.

Ilmu hikmahnya, bahwa kemiskinan sangat sulit diberantas. Termasuk di negara maju. Kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh mutu manusianya. Jika semua produktivitas tinggi maka cepat maju. Agar semua produktif tinggi harus banyak pengusaha pencipta lapangan kerja agar tiada pengangguran dan kemiskinan.

Salam Inovasi 🇮🇩

Wayan Supadno

Pak Tani

HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *