Wayan Supadno
Judul di atas Bahasa Jawa yang arti gramatikalnya memberdayakan diri dengan dasar budi pekertinya. Ilustrasi kisah di bawah ini sebuah gambaran sesungguhnya betapa dahsyatnya kekuatan manusia.
Sebuah keluarga punya anak 2 orang masih SMP keduanya, orang tuanya mengalami kecelakaan. Jadilah kedua anak tersebut yatim piatu. Karena ada kerabat dengan Kepala Desa, mereka dipungut.
Keduanya diberi tugas mengisi bak kamar mandi, anak pertama diberi tugas mengisi bak dalam kantor Kades dan anak kedua mengisi bank kamar mandi umum. Tujuannya agar ada uang saku.
Keduanya dapat perlakuan adil karena satu rahim ibunya. Kades berusaha mendidik agar mandiri. Tapi masa depannya beda jauh. Karena proses ngulir pambudi/pemberdayaan diri tiada henti.
A. Anak Pertama.
Sekolahnya pintar juara terus, rajin belajar karena sadar jadi anak yatim piatu. Karena rajinnya hingga ” kurang terampil ” bergaul. Sahabatnya cuma buku. Selalu dapat pujian karena nilai teori tulisnya.
Pendek kata, tiada waktu selain belajar setelah menyelesaikan kewajibannya mengisi air bak. Dipikul dari sumber air yang cukup jauh. Rutinitas terbentuk hingga beberapa tahun.
Mentalnya ” terbelenggu ” jadwal rutinnya. Prediksinya ke depan akan terbentuk pribadi tanpa mereka berkreasi. Tahu – tahu tanggal satu lagi, tahu – tahu anak semester satu lagi dan seterusnya.
B. Anak Kedua.
Bukan pemilik predikat sebagai ” bintang kelas ” di sekolahnya. Biasa saja, nilainya hanya di atas rata – rata lainnya. Sepulang sekolah mengisi air bak dan bergaul dengan para sahabatnya.
Selalu berpikir kritis terhadap masalah yang dihadapinya termasuk yang dihadapi masyarakatnya. Menyisihkan waktu untuk ” riset lapangan ” mencari cara agar tidak selamanya memikul air.
Diukur jarak dari bak ke sumber air yang selalu rutin diisi air dengan memikul. Membuat rancang bangun. Merencanakan dan melaksanakan pemasangan pipa. Goal air mengalir tanpa memikul lagi.
Kakaknya diberdayakan, hanya tukang mengawasi jika ada pipa yang bermasalah. Keduanya tetap dapat uang saku. Walaupun tanpa memikul air lagi, yang penting endingnya air berlimpah.
Air meluber bukan dianggap ancaman oleh anak kedua tersebut. Itulah ” peluang emas ” sesungguhnya. Tanpa keluh kesah apalagi menyalahkan keadaan, tanpa cipta limbah waktu.
Air diberdayakan menanam kangkung dan lainnya. Air dijadikan bahan baku minuman kemasan setelah dewasa. Karena sukses banyak yang puas bertestimoni. Ekspansi di desa lain.
Setelah 30 tahun berikutnya. Anak pertama jadi pekerja. Anak kedua jadi pemilik usaha menggurita pada banyak bidang. Membayar pajak banyak untuk APBN/D lewat PBB, PPN, PPh, BPKB dan lainnya.
Anak kedua bisa jadi donatur dana abadi sekolah di kampungnya bagi anak tidak mampu. Juga donatur pembangunan tempat suci. Karena punya penghasilan lebih. Karyawannnya banyak. Apalagi petani plasmanya, hasil taninya ditampung, banyak lagi.
Konkret, hidupnya bermanfaat bagi umat banyak, diidolakan karena inspiratif. Sekalipun 1 kandung beda masa depannya karena mau ngulir pambudi. Tahu diri apa plus minusnya dalam dirinya. Dibangun, dikembangkan dan diberdayakan agar bermanfaat bagi orang lain.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630