Wayan Supadno
Semua negara selalu merindukan fase bonus demografi, saat penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan yang non produktif. Indonesia saat ini dapat ” momentum emas bonus demografi ” tersebut.
Data BPS bahwa jumlah penduduk Indonesia 285 juta jiwa. Yang usianya produktif 15 sd 64 tahun sebanyak 194 juta jiwa atau setara 68%. Ini sungguh rahmat Tuhan, tiada terulang lagi kesempatan seperti ini.
Berikut ini bahan kajian wujud data dan faktanya ;
1). Pengangguran.
Jumlah pengangguran terbuka saat ini 7,6 juta orang. Ironisnya, Menteri Tenaga kerja mengatakan lebih dari 1 juta sarjana juga jadi pengangguran. Gelar akademik tidak lagi jadi jaminan akan produktif.
Justru sebagian jadi beban orang lain karena biaya hidupnya numpang pihak lain termasuk negara dan jadi bumerang penyandangnya. Bukan lagi jadi kebanggaan. Ini harusnya jadi pemantik bangkit.
Miris sekali, kalau yang mestinya bangga punya gelar, justru jadi minder di tengah masyarakat karena menganggur. Lalu pada kabur ke luar negeri kerja ” bukan level ” nya. Gelar berjejer jadi pemetik buah atau pembersih rumah di Australia.
Yang di dalam negeri, tidak jarang lulusan pasca sarjana jadi ojek online. Bahkan gelarnya Doktor/PhD juga ada di berita cuma jadi pengantar makanan. Sangat tidak sebanding. Bagai emas berlian disepuh dengan perak.
Ini semua akibat minimnya jiwa kewirausahaan/entrepreneurship. Kita gagal mendidik anak muda. Hanya dididik hafalan teori saja. Bukan dididik agar mandiri karena memberdayakan dirinya sendiri (Bahasa Jawa/Ngulir Pambudi).
Kalkulasi logisnya, jika 1 juta orang sarjana tersebut dibekali ” mental kewirausahaan ” lalu jadi pengusaha. Bisa merekrut lainnya yang menganggur 7 orang saja. Maka 1 juta +(1 juta x 7 orang) = 8 juta jadi produktif. Nol pengangguran.
Implikasinya, jika 8 juta orang rerata punya pendapatan Rp 100 juta/tahun akan setara Rp 800 triliun/tahun. Pasti tidak miskin. Belum lagi efek domino nilai tambah produk atau jasanya dan pajak yang timbul untuk APBN, pasti dahsyat.
2). Kemiskinan.
Jika pedomannya standar global minimal berpendapatan $ 8,3/hari oleh Bank Dunia dinilai jumlah kemiskinan Indonesia 68% atau setara 194 juta orang. Di Asean hanya di atas Laos. Ini sangat memprihatinkan.
Ini semua terjadi akibat banyaknya orang tidak produktif (pengangguran), akibat lapangan kerja terlalu sedikit. Dampak langsung dari ” perguruan tinggi gagal ” membangun mental anak muda.
Hampir semua produk perguruan tinggi hanya pencari lowongan kerja, bukan cipta lapangan kerja. Harusnya membangun mental ” agar bernyali ” mengawali usaha cipta lapangan kerja. Fakta ini harusnya jadi bahan mawas diri dengan rendah hati, tanpa gengsi.
Salam Bangkit 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630