Mungkin saya orang pertama kali yang tidak setuju dengan pernyataan pemerintah mau ekspor tenaga kerja ke luar negeri (TKI) apalagi jika itu manusia yang bermutu.
Latar belakangnya, karena kewalahan dengan penambahan jumlah pengangguran akibat adanya banyak PHK massal hingga di atas 140.000 orang selama 2 tahun ini.
Juga adanya penambahan lulusan perguruan tinggi dan SLTA yang tidak terserap di dunia kerja, karena beragam sebab termasuk tidak cocok antara kebutuhan pasar dengan skillnya.
Hingga jumlah pengangguran terbuka minimal 7,6 juta orang. Jika mereka produktif Rp 100 juta/orang/tahun setara Rp 760 triliun/tahun, wujud gajian buat beli pangan, sandang, papan dan lainnya.
Belum lagi efek domino jika mereka 7,6 juta jiwa bekerja maka akan membuat produk atau jasa, dapat nilai tambah laba maupun manfaat. Negara dapat pajak dari PPN, PPh, dan lainnya.
Sebaliknya jika menganggur akan menggerus pendapatan yang lainnya. Dampaknya pendapatan per kapita Indonesia turun. Kemiskinan riil akan bertambah banyak. Ancaman serius bangsa.
Sisi lain, negara tujuan TKI dapat manfaatnya. Contoh TKI ke Australia mereka mengurus sapi, gandun, buah dan lainnya. Lalu diekspor ke Indonesia menguras devisa. Menjatuhkan kurs rupiah, mendongkrak dolar AS.
Apa solusinya ?
Pemerintah harusnya sadar bahwa data sapi kita hanya 12 juta ekor padahal jumlah penduduk 285,1 juta jiwa (BPS). Minus indukan sapi pedaging 6 juta ekor. Minus indukan sapi perah 9 juta ekor. Agar swasembada.
Bisa dibandingkan dengan Australia, jumlah sapi 36 juta jiwa tapi jumlah penduduk hanya 26 juta ekor. Ironis. Diagonal negatif dengan Indonesia yang butuh sapi banyak karena dominan Muslim.
Jika pemerintah mau cipta lapangan kerja sekaligus upaya swasembada sapi. Sebaiknya memberi stimulus subsidi bunga kredit bank 5%/tahun. Jika komersil 8%/tahun jadi 3%/tahun.
Jika Rp 150 triliun setara Rp 7,5 triliun. Untuk impor sapi hidup 15 juta ekor, indeks Rp 15 juta/ekor. Jika populasi sapi tambah 15 juta ekor maka akan menyerap pengangguran 1 juta orang, sangat produktif.
Implikasi lain akan swasembada daging sapi dan susu. Pasti para importir akan semangat impor sapi hidup. Lalu dijual ke masyarakat juga memakai dana KUR di bank, seperti pengalaman saya selama ini.
Saya bahagia sekali tiap hari banyak masyarakat beli sapi untuk digemukkan dan dibiakkan karena bunting indukan produktif. Dominan saya datangkan sapi dari Australia dan Bali. Para pembeli umumnya petani sawit.
Diintegrasikan sawit sapi, limbah sapi feses urine untuk pupuk sawit dan limbah sawit bungkil solid maupun pelepahnya untuk pakan sapi. Praktis harga pokok produksi (HPP) rendah. Ekonomi sirkular nol limbah.
Ilmu hikmahnya, bahwa SDA adalah aset termahal bagi Indonesia. Kalau dibiarkan produktif di luar negeri sayang sekali. Bisa jadi akan mengurangi kecintaan dengan NKRI ini. Pemerintah harus lebih kreatif inovatif solutif membumi dalam membuat kebijakannya.
Salam Bangkit 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630