Wed. Jan 14th, 2026

Peternakan sapi Indonesia, bagai Kapal Titanic saja. Makin berat bebannya. Impor sapi dan daging makin membesar jumlahnya. Peternaknya demotivasi.

Pengamatan saya pribadi, para peternak sapi Indonesia saat ini. Sedang mengalami proses demotivasi. Artinya tidak antusias seperti dulu lagi.

Kondisi ini hanyalah akibat saja. Dari berbagai macam kebijakan pemerintah ke iklim usaha yang tidak berpihak ke peternak sapi.

Jika kita runut riwayat peternakan sapi Indonesia.

1. Tahun 1984, Indonesia jadi eksportir sapi ke banyak negara. Bahkan termasuk yang betina. Itu pun selalu dipilih yang super hingga bobot hidup sapi Bali minimal harus 500 kg/ekor.

Dampaknya saat ini wilayah sentra sapi yang diekspor minim yang super, misal di NTT sapi Bali kecil – kecil akibat inbreeding (kawin keluarga). Misal indukan kawin dengan anaknya.

Terbalik dengan Australia, ekspor sapi bukan yang sapi super. Hilirisasi hasil riset hal sapi tiada henti. Bahkan daging sapi matang (rendang) pun ditolak masuk Australia, guna cegah dini risiko PMK misalnya.

2. Di Indonesia pemotongan sapi betina produktif sekitar 1,3 juta ekor per tahun. Bahkan kadang termasuk sapi bunting. Sekalipun semua tahu itu pabrik anak sapi. Tahu juga itu melanggar KUHP bisa dipenjara.

Akibat kurangnya jumlah pasokan sapi hanya tumbuh 1,3%/tahun. Padahal permintaan sapi tumbuh 6,4%/tahun. Wajar jika harga sapi terus naik akibat tidak seimbang pasokan dan permintaan.

Apalagi saat ini, pasca penyakit mulut dan kuku (PMK). Korban sapi mati akibat PMK dan disembelih dadakan akibat terkena PMK, jutaan ekor jumlahnya. Termasuk betina, besar dan kecil.

Breeding is leading.

Ajaran ini sangat benar. Juga bijak dan cerdas sejak dulu kala. Sayangnya hanya pada sekedar tahu, hafal, mengerti dan selalu dibicarakan saja. Sangat sedikit yang mengerjakan di lapangan (praktisi/ breeder ).

Padahal saya jalani selama 4 tahun ini. Sungguh membahagiakan. Karena labanya jelas, apalagi jika integrasi dengan kebun. Limbah sapi jadi pupuk menekan biaya kebun dan limbah kebun jadi pakan sapi menekan biaya ternak sapi.

Yang paling bernilai adalah menghidup – hidupkan kehidupan. Niscaya Tuhan yang menghidupkan akan makin memberi penghidupan kepada kita. Urip iku urup. Hidup adalah menyala menerangi sekitar. Bermanfaat.

Jika kita memberdayakan diri sendiri. Berpartisipasi breeding sapi. Niscaya jumlah impor sapi dan daging tidak lagi naik di atas 1,6 juta ekor/tahun. Masyarakat dapat kerja, pasar kita nikmati dan dampak positif lainnya.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *