Sejelek apa pun sebidang tanah bagi manusia bermental inovatif. Dianggapnya anugerah harus disempurnakan.
Maka akan jadi sehat, subur dan produktif serta berkontribusi nyata manfaatnya bagi masyarakat sekitar. Bahkan skala negara pun ada.
Contoh ;
Israel dan Ethiopia negara tandus jadi lumbung pangan dunia. Thailand tandus hingga penjajah pun tidak minat, tapi jadi eksportir terbesar pada gula, beras dan kelapa muda.
Belanda negara kecil payau, jadi lumbung pangan benua Eropa. Taiwan negara kecil jadi ikon inovasi membumi. Bahkan jadi sumber benih inovasi sedunia.
Sebaliknya, dibekali hamparan lahan luas subur sekalipun. Jika tanpa mental inovatif. Hanya jadi beban derita keluh kesah. Hanya dipikirkan dan dibicarakan terus. Minim tindakan.
Yang terjadi untuk pangan saja harus beli dari tempat yang jauh rutin. Bahkan terus makin besar volume dan banyak nilai transaksi ketergantungannya.
Contoh konkret mental kontra produktif ;
1. Borongan menanam bibit, sudah tahu polybag harus dilepas. Tapi ditanam sekaligus dengan polybagnya hanya demi cepat lalu dapat upah banyak. Dampaknya tanaman kerdil selamanya.
2. Ada batang pisang atau durian atau sawit baru ditanam. Terlihat setiap hari karena dekat jalan selalu dilewati. Tapi karena bermental tanpa ide gagasan inisiatif. Tetap roboh terus.
3. Pabrik dan gudang. Lampu tahu memakai listrik berbiaya, nyala terus. Karena mental benalu tiada tindakan mematikan. Begitu juga sampahnya tiada upaya diminimalkan. Agar tidak jadi pekerjaan sekitarnya.
4. Di kandang sapi. Ada yang rusak sangat berbahaya jika tertabrak sapi saling bercanda. Tiada ide langsung berbenah cegah tangkal. Menunggu mata orang lain melihat dan mulut orang lain menyuruh.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630