Wed. Jan 14th, 2026

Sering kali saya menonton di youtube, rekaman wisuda. Karena acara itu sering muncul pesan moralitas dan intelektualitas. Dari semua yang saya tonton, pidatonya selalu melaporkan bahwa alumninya cepat dapat kerja.

Ada yang mengaku hanya 4 bulan sejak wisuda, bukti kampusnya hebat mendunia. Hemm. Ada yang menjamin jika 6 bulan tidak dapat kerja agar kembali ke kampus akan diajari cara melamar pekerjaan.

Tiada satupun yang pidatonya fokus berharap agar segera cipta lapangan kerja. Membentuk superteamlalu dapat laba Rp 100 juta/bulan misalnya. Tanpa melamar kerja. Mandiri.

Sisi lain lagi, saya pernah kedatangan tamu di rumah Cibubur, 5 orang ibu – ibu. Semua punya gelar Doktor karena lulusan S3. Mau tanya cara jadi pengusaha dengan cepat. Sudah malu terlanjur lulus S3.

Kalau tidak bisa juga, mau jadi TKI di Australia. Memetik apel. Karena gajinya Rp 30 juta/bulan. Di sana katanya lagi kekurangan tenaga kerja. Krisis tenaga kerja. Terlalu banyak lapangan kerja.

Tapi ada juga yang punya sifat ” arogansi akademik “. Karena punya gelar akademik merasa jauh di atas praktisi. Memandang dengan sebelah mata. Tapi tiada bukti bahwa dirinya telah banyak berbuat nyata yang bermanfaat bagi sekitarnya.

Mengaku sudah habis miliaran dana APBN untuk puluhan kali penelitian. Tapi saat ditanya, untuk menunjukkan 2 inovasinya membumi ada di pasar. Diam seribu bahasa.

Pertanda hasil risetnya masih tersimpan di lemari. ” Belum bisa dikatakan inovasi. ” Tiada peduli dana miliaran asalnya kucuran keringat rakyat, pajaknya jadi APBN. Bijaknya, punya tanggung jawab moral.

Sungguh. Jadi praktisi/pengusaha/pelaku usaha memang benar – benar sulit. Semua perguruan tinggi dituntut agar komposisi pengusaha Indonesia 5% saja tiada pernah terwujud.

Hanya bisa 3,41% dari total penduduk 274 juta (Kemenkop UKM). Itu pun, praktisinya bukan sarjana semua. Bahkan komposisi pengangguran kita lulusan perguruan tinggi makin dominan.

Dampak dari jumlah pengusaha sebagai pencipta lapangan kerja hanya sedikit, maka pengangguran berlimpah hingga sekitar 11 juta. Meluber jadi TKI.

Jadi praktisi sulit, karena harus berproses, di antaranya ;

1. Uang SPP nya mahal sekali untuk dapat ilmu hikmah, jadi bekal menyempurnakan praktik berikutnya. Misal harus ” berproses mendanai dengan dana sendiri “, praktik usaha hingga harus pernah rugi, gagal, tertipu dan bangkrut.

2. Waktunya lama, tiada satupun yang bisa hari ini diwisuda lalu besok pagi punya kartu nama bertulis pengusaha. Harus berproses dengan waktu lama agar makin matang. Praktik tidak semudah dipikirkan dan dibicarakan.

3. Teruji berulang kali di lapangan oleh banyak orang. Ini sulit karena terkait mental dan intelektual kolaborasi dalam praktik usahanya. Tidak konsisten sekali saja, walau ada gelar, kepercayaan pudar juga.

4. Jadi manajer keuangan hebat. Karena tanpa uang, tapi usaha harus tetap jalan. Misal mengawali usaha dari Rp 5 juta, harus punya laba Rp 100 juta, tentu harus memakai modal atau aset atau barang dagangan orang lain yang percaya.

5. Jadi manajer SDM yang hebat. Karena kesibukannya bertambah banyak. Termasuk sibuk mikir sulit terkait teknis inovasi misalnya. Mau tidak mau, harus merekrut orang lebih pintar dari dirinya. Juga harus bisa loyal kepada dirinya.

6. Jadi pemilik visi misi jauh ke depan dibandingkan orang – orang di sekitarnya yang notabene banyak yang lebih pintar, lebih tinggi pendidikan formalnya dan mungkin gelarnya banyak. Tapi harus tetap bisa mengendalikan menuju visinya.

Tentu masih banyak lagi, hari ini saya dapat ilmu hikmah luar biasa besar manfaatnya. Terasa tidak mungkin orang dari nol ibaratnya, tapi begitu disegani oleh ” Tim Pemikir ” nya yang secara pendidikan formal jauh di atasnya. Semua terkendali dengan baik solid menyukseskan usahanya.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *