Wed. Jan 14th, 2026

Empiris.
Kakek Nenek saya, peserta transmigrasi lokal dari Wates Yogyakarta ke Banyuwangi Selatan. Sekitar tahun 1921. Dicetakkan sawah oleh Belanda.

Kampung kelahiranku nampak terencana dengan baik dan rapi. Hamparan sawah subur tepat di belakang perkampungan. Berbatasan langsung dengan Perhutani.

Tahun 1980 an, saya ingat persis. Kakek melarang keras menjual gabah hasil panenannya sebelum lumbungnya penuh. Nenek kalau ke pasar tidak membawa uang tunai.

Harus ada yang dijual untuk belanja apa yang dibutuhkan dan hasil jualan harus tersisa uangnya untuk ditabung. Kadang ke pasar membawa ayam, telur, kelapa dan lainnya.

Manajemen itu yang konsisten diterapkan. Berulang kali diajarkan ke saya. Hingga saya sudah lulus kuliah di Unair Surabaya tahun 1990 an tetap tanpa jemu diingatkan.

Tidak heran jika datang hanya sebatang kara. Saat sepuh makin ampuh. Anaknya 7, hanya 2 orang yang tidak sarjana. Sayapun kuliah berkat dorongan beliau.

Bukan itu saja. Setelah semua usai studi masih tersisa sawah dan pekarangan jumlah belasan hektar. Tidak masuk akal tapi itulah faktanya. Kuncinya pangan mutlak harus aman.

Sering berpesan, seenak – enaknya orang adalah bukan yang punya uang banyak. Bukan yang pintar saja. Tapi yang serba ada. Apapun yang dibutuhkan dan diinginkan selalu ada. Buatlah kondisi seperti itu.

Ternyata, wejangan itu terbukti saat ini. Bukan hanya skala keluarga. Kampung. Daerah. Negara. Tapi skala dunia.  Saat ini dunia lagi kesulitan pangan.

Antara jumlah produksi dan kebutuhan tidak sebanding. Terlalu banyak permintaan, terlalu sedikit yang mau bertani pangan. Makanya mahal. Risikonya akan makin jadi rebutan.

Waspada. Soal perut, mudah ribut. Orang Jawa Kampung, Urip iku ngawula waduk. Hidup itu mengabdi perut. Jika perut memerintah agar diisi, maka apapun dilakukan demi perut.

Baru saja saya komunikasi dengan sahabat di Texas Amerika Serikat. Tanya inflasi apa benar 8%. Katanya lebih. Barang – barang naik minium 20%. Paling marketable pangan dan energi.

Begitu juga di Inggris, Argentina, Jerman dan lainnya. Mereka telah terdampak serius terhadap langka dan mahalnya pangan. Jadi mahal sekali. Saat produktivitas rendah. Saat bunga bank naik tajam. 

Artinya, berita ini meyadarkan kita bahwa kita harus bertanggung jawab kepada perut sendiri. Perut segenap keluarga,  tetangga dan seterusnya. Agar terpanggil ikut berpartisipasi memproduksi pangan.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *