Wed. Jan 14th, 2026

Semalam saya komunikasi dengan sahabat saya di Texas Amerika Serikat Bu Dian, sesama alumni Unair Surabaya. Hanya sebatas konfirmasi saja berita resesi kok gencar amat.

Sekaligus saya menawarkan komoditas yang bisa diekspor ke sana. Mana tahu bisa dikerjakan. Ternyata, benar adanya inflasi di AS memang sudah tinggi. Prediksinya bukan hanya 8%. Di atas itu.

Alasannya semua barang mahal naiknya minimal 20%. Hingga ada yang 50%. Luar biasa. Tapi komoditas non pangan energi tidak bergerak. Makanya ekspor non pangan dan energi, peluangnya kecil.

Di saat bersamaan daya beli sedang turun. Biaya hidup masyarakat AS naik, misal angsuran kredit rumah, jual beli properti dan lainnya. Dampak cetak uang berlebihan, bunga bank naik dan perang Rusia Ukraina.

Sahabat lain lagi, sama persis. Bahkan ada yang menunda impor barang dari Indonesia. Karena bukan kebutuhan pangan energi. Artinya peluang ekspor Indonesia tertunda. Potensi dapat devisa turun.

Ilmu hikmahnya, kita tidak boleh terlalu ke GR an pasti aman dari ancaman tsunami resesi. Karena antar negara saling kait mengait dan dibutuhkan membutuhkan. Peluang pangan mahal itu pasti. Resesi bisa diantisipasi.

Ingat, sekalipun Indonesia lahannya luas subur. Jika tidak dipraktikkan. Hanya dipikirkan dan dibicarakan terus. Tiada arti. Buktinya kurang pasokan hingga impor gula 4 juta ton/tahun, kedelai 3 juta ton/tahun, daging dan sapi setara 1,5 juta ekor/tahun dan lainnya.

Perlu disadari bahwa pangan energi semurah apa pun akan jadi mahal bagi yang menganggur tidak berpendapatan. Ada uang pun akan tiada arti jika tiada barangnya, misal pangan kurang pasokannya. Tiada arti.

Runutnya, contoh kita banyak ekspor kayu sengon olahan, tekstil dan lainnya ke Eropa. Jika pesanan impornya ditunda oleh mereka di Eropa. Jadi masalah bagi eksportir dan produsen di Indonesia. Ada peluang PHK massal.

Jika terjadi ” PHK Massal ” misal 50.000 orang. Biasanya mereka dapat Rp 5 juta. Setara Rp 250 miliar/bulan. Biasanya dibelanjakan ke toko warung dan lainnya jadi tiada. Lalu tiada omzet laba bagi toko dan warung tersebut. Ini dampaknya.

Sehingga hal paling bijak adalah meminimalkan pengeluaran karena serba ada di sekitar rumah. Cukup kebutuhannya. Misal cabai, sayuran dan bawang ditanam di pot besar. Cukup untuk sekeluarga.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *