Banyak orang terjebak dan terbelenggu oleh pikirannya sendiri. Kadang pada posisi belum tentu benar lalu tidak bisa mulai bergerak mengawali usaha. Ini paling sering terjadi, lalu cita – cita jadi praktisi (pengusaha) tidak terwujud. Bagai mimpi tidur belaka, bukan mimpi bangun tidur.
Misal :
1. Merasa tidak punya modal banyak sebagai syarat utama berusaha, anggapannya usaha tanpa modal adalah tidak masuk akal.
2. Bukan darah keluarga pengusaha dan tanpa punya gelar sarjana bisnis atau sarjana pada bidang usaha tersebut.
3. Tidak tahu bagaimana cara mengawali usaha padahal lulusan perguruan tinggi. Kebingungan sendiri.
Ketiga hal di atas hanyalah belenggu diri. Salah besar kesemuanya. Hanya jadi alasan agar tidak memulai usaha. Akhirnya rencana ke rencana. Bahkan hingga rencananya berulang tahun. Misal rencana sejak 3 tahun lalu, tiada dimulai.
Padahal ada prinsip – prinsip utama yang bisa jadi bekal memulai berusaha, yaitu ;
1. Pemilik modal selalu kesulitan mencari orang yang bisa dipercaya. Karena gagal mental (karakter), misal menipu atau rakus. Kadang gagal kemampuan (kapasitas) mempraktikkan ilmunya atau tidak mumpuni ngembangnya di lapangan.
2. Pemilik pabrik industri. Paling suka jika dibantu ide gagasannya yang menjadikan biaya produksinya makin hemat tapi volume produksinya tetap tinggi. Biaya dibagi produksi = harga pokok produksi (HPP) rendah. Agar laba tambah, bisa menang persaingan.
3. Pabrik industri paling suka jika produknya dipasarkan guna meningkatkan arus kasnya. Omzet dan labanya makin besar. Profit marginnya sehat karena fast moving. Lalu investasinya cepat kembali modal. Akhirnya produknya populer di masyarakat dan ekspansi lagi.
Contoh empiris saya pribadi modal usaha hanya Rp 100.000 utang Primkopad Rindam l/BB Pematang Siantar Sumut. Laba minimal Rp 100 juta/bulan. Tahun 1995 s/d 2000. Tetap disiplin jadi Perwira Militer, mengkaryakan beberapa orang. Saya Leadershipnya saja ;
1. Pabrik Kertas Raksasa di Porsea Sumut.
Agar HPP rendah. Bahan bakar steam boiler batu bara. Saya ganti cangkang/tempurung sawit. Murah, ramah lingkungan dan berkelanjutan. Batu kapur ( burnt lime) pemutih kertas, mahal dari Puger Jember, diganti mutu sama dari Padang Panjang Sumbar.
2. Kilang Padi Terbesar di Sumut.
Agar hemat bahan bakar pemanas gabah dari kayu karet saya ganti dengan limbah kayu teh yang diremajakan. Karung baru saat panen padi di sawah, saya diganti karung bekas pupuk urea di PTPN banyak, harga 50% dari baru. Beras saya pasarkan ke PTPN IV jumlah besar rutin jangka panjang. Modal dan laba yang saya dapatkan, jujur apa adanya dipaparkan ke Owner nya.
3. Ikan Mas Danau Maninjau dan Batu Kapur Padang Panjang di Sumbar.
Saya bantu penetrasi ke pasar utama ikan mas untuk acara ” Adat Batak ” di wilayah Sumatera Utara. Rutin 2 truk/hari. Bayar 1 minggu berikutnya. Batu kapur di Padang Panjang saya pasarkan ke pabrik kertas raksasa di Porsea 500 ton/bulan selama 2,5 tahun. Dibayar ke pemilik pasca cair dari pabrik kertas.
Apa ilmu hikmahnya ?
Sesuai doktrin intelijen bisnis. Cari, temukan dan penuhi apa maunya pasar. Dalam hal ini, karena modal dengkul dan butuh modal atau barang usaha. Maka ” pasar diri kita sendiri ” adalah pemilik modal dan pemilik industri. Utamanya agar bisa dipercaya. Jika sekali gagal kepercayaan, maka bagai kertas diremas, tiada mungkin kembali normal kepercayaan itu.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630