Wed. Jan 14th, 2026

Di Indonesia negeri kita ini sungguh aneh tapi nyata. Di Banyuwangi riwayatnya kota pisang. Ada 2 kecamatan sentra pisang cavendish. Beberapa waktu lalu ditebangi. Alasannya tidak punya pasarnya. Tidak laku.

Saat bersamaan banyak eksportir kesulitan mendapatkan pisang cavendish untuk diekspor. Termasuk Mas Rio Erlangga, Mas Putra, Cak Zakky, Cak Andi, Bu Rina, Bu Meilani dan masih banyak lagi.

Jambu merah, bahan baku diekstrak lalu dikemas oleh pabrikan dan dipasarkan ke hotel, restoran dan diekspor ke banyak negara. Oleh industri besar. Petani sulit memasarkan, bahkan menanam pun takut tidak laku.

Tapi kita impor besar – besaran demi kelangsungan pabriknya. Jika tanpa impor maka pabrik tidak berkelanjutan dan tutup mengorbankan ribuan karyawannya. Peluang besar itu akhirnya dinikmati oleh para petani luar negeri.

Masih banyak lagi yang kami diskusikan kemarin malam di rumah saya Cibubur. Antara saya, Mas Rio Erlangga sebagai off taker untuk bahan baku industrinya maupun ekspor dan Pak Nyoman Edi dari Palembang sebagai mitra on farm nya.

Pak Nyoman Edi sedang menanam buah tropis skala ratusan hektar di kampungnya, Sumsel. Mas Rio yang membeli semua hasilnya. Saling menguntungkan. Bukan demi gemuk, menguruskan lainnya.

Hanya dengan saling bisa tepo seliro/tat twam asi atau kembalikan ke diri sendiri, maka bisnis bisa lestari. Itu ujar Pak Nyoman Edi. Saat Mas Rio cerita lagi susah tertipu Rp 2,6 miliar oleh supplier nya. Tidak komitmen.

Padahal ada prinsip kajian pada pra investasi bisa jadi pedoman, yaitu ;

  1. Marketable.
  2. Feasible.
  3. Agroclimate.
  4. Low risk.
  5. Bankable.

Begitu juga permintaan pasar, baik industri maupun eksportir juga ada pedomannya, yaitu 6 K ;

  1. Kontinuitas.
  2. Kualitas.
  3. Kuantitas.
  4. Kecepatan.
  5. Ketepatan.
  6. Konsisten harganya.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *