Ilustrasi.
Si A, hidupnya terasa melelahkan sekali. Anatominya agak kerdil walaupun genetik orang tuanya bukan kerdil. Sepanjang hidupnya sakit – sakitan, rentan penyakit dan rendah daya tahan tubuhnya. Biaya hidupnya sangat tinggi baginya, karena tergantung orang lain. Menunggu iba orang lain di sekitarnya.
Diajak diskusi sulit nyambungnya. Orang tanya sapi, tapi kambing jawabannya. Rendah daya improvisasi diri daya nalar analisisnya, apalagi intuisi sangat minimum. Itu manifestasi dari kurang asupan pangan yang bergizi. Stunting.
Menurut Bank Dunia yang diberitakan Kompas bahwa harga pangan Indonesia termahal di Asean. Harga pangan bergizi di Indonesia 4,47 dollar AS. Sekitar Rp 69.000/hari. Saat bersamaan pendapatan per kapita masih rendah.
Pembandingnya di Thailand 4,3 dollar AS, Filipina 4,1 dollar AS, Vietnam 4 dollar AS dan Malaysia 3,5 dollar AS. Ironisnya pendapatan per kapita Malaysia 3 kali lipat Indonesia dan Thailand 2 kali lipat Indonesia.
Karena tingginya harga pangan bergizi di Indonesia tertinggi di Asean. Berdampak 68% atau 183,7 juta penduduk tidak mampu membeli pangan bergizi. Bahkan Provinsi NTT 78% tidak mampu mengakses pangan bergizi seimbang.
Pengertian pangan bergizi seimbang ada kecukupan kandungan karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah. Sisi lain pedesaan dan profesi petani masih jadi sarang kemiskinan. Itu kesimpulan yang diberitakan Kompas hasil analisa data BPS dan FAO.
Beberapa pihak minta tanggapan saya selaku petani. Saya jawab lugas, wajar saja kalau data dan faktanya seperti itu. Itu hanya akibat saja. Kondisi tersebut di atas belum lengkap kaitan stunting masih 24%, IQ Indonesia kalah dan tinggi anatomi kita cenderung turun.
Sebabnya banyak hal. Paling utama sejak reformasi 1998, hal pertanian pangan masih belum jadi perhatian serius pemerintah. Kalaupun ada anggaran APBN berlipat dibandingkan sebelumnya tapi belum efektif efisien. Seolah asal serap anggaran saja.
Pagu APBN bagai non cost and benefit analysis nya. Memang beda mengelola dana APBN dan dana perusahaan, apalagi dana pribadi yang mencarinya memakai kucuran keringat sejagung – jagung. Tingkat teliti daya analisa biaya yang akan timbul dan manfaat yang dihasilkan.
Sebab utamanya pangan Indonesia mahal ;
1. SDM produsen pangan kita dominan usia tua renta, pendidikan SD dan non inovatif. Yang muda dan sarjana punya ilmu pertanian peternakan nyaris tiada 1% dari praktisi yang ada. Mereka suka kerja di bank atau lainnya. Yang kesemuanya ingkar dari garis tegak lurus dari prodi studinya.
2. Ironis, wisuda 250 orang lebih. Yang jadi praktisi hanya 1 orang. Walaupun Bung Karno sudah memberi amanah, ” Pangan soal hidup matinya sebuah bangsa “, peletakan batu pertama Kampus IPB, 1952. Konkretnya sulit mencari sarjana pertanian 100 orang saja owner nya kilang padi dari ratusan ribu kilang padi Indonesia. Begitu juga komoditas lainnya.
3. Pendek kata, pendidikan kita gagal mendidik jadi praktisi inovatif. Suksesnya jika hafalan ujian tulis di kelas. Tapi kalau pembuktian di lapangan nyaris tiada nyali. Buktinya sangat kesulitan mencari praktisi inovatif berbasis sarjana. Lebih mudah menemukan mereka di bank.
4. Iklim usaha, sangat besar pengaruhnya. Bunga bank di LN (luar negeri) 2%, kita 12%. Infrastruktur mereka di LN bagus berdampak ongkirnya murah, kita 3 kali lipatnya. Inovasi mereka membumi, di kita banyak masih ada tersimpan di lemari peneliti masih invensi. Tata niaga di LN berpihak ke petani.
5. Konkretnya di Vietnam padinya bisa 5,9 ton GKP/ha, tapi di Indonesia hanya 5,2 ton GKP/ha ini akibat inovasi membumi. Anak muda di LN banyak gairah mandiri inovatif, hingga Vietnam jadi Pusat Inovasi. Ongkir cocopeat dari Banyuwangi ke Pangkalan Bun Kalteng 2 kali lipatnya dari Banyuwangi ke RRC.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630