Wed. Jan 14th, 2026

Empiris.
Ketika saya dituding, enak aja ngomongnya karena jadi Owner. Coba kalau dia jadi Employ. Bisa nggak ? Itu orang mengeluh dan sukanya ” punya hiburan ” membicarakan atasannya. Atasan, judul cerita tiada akhir.

Mereka mungkin tiada tahu kalau saya juga pernah jadi karyawan. Selama 4 tahun. Saat sambil kuliah di Unair Surabaya 2 tahun dan di perusahaan farmasi (PMA/Inggris) 2 tahun juga. Sama jadi pemasar juga. Baru ke militer.

Bahkan selama 2 tahun. Seingat saya selalu diumumkan di jurnal nasional pencapaian target. Tiada pernah tanpa 5 besar tingkat nasional/bulannya. Modal saya hanya membangun hubungan emosional agar rasional pelanggan berpihak.

Bagaimana pengalaman saya selama ini, jika diambil ilmu hikmah buat bekal langkah lebih baik karena tanpa mengulangi kesalahan masa lalu, dengan memberdayakan emosional mikro disentuh agar rasional makro berpihak ?

Saat di perusahaan farmasi

Tugasnya ke dokter – dokter. Menjelaskan tentang produk obat resep. Mulai komposisi, cara pakai, dosis, efek samping dan seterusnya. Ke apotek bagaimana caranya agar tahu dokter siapa menulis resep apa. Tidak mudah ini.

Intelijen bisnis dipraktekkan. Hukum pareto juga diterapkan. Sehingga tahu persis berapa banyak dokter potensial pemilik pangsa pasar pasien terbesar. Diambil 20% dari total dokter terbanyak pasiennya, setara 80% dari totalnya.

Dokter insan pinter, pasti kurang suka jika ada yang keminter. Misal selalu menggurui ke dokter. Apalagi hanya membahas obat dagangan. Didekati dengan hubungan emosional. Dicari hingga ketemu apa maunya. Misal olah raga atau ngobrol santai saja hal keluarga.

Contoh yang saya lakukan melalui sentuhan emosional demi pasar.

1. Seorang dokter nampak keluarga bahagia. Saya buatkan beberapa gantungan kunci eksklusif. Bergambar foto keluarga, dibaliknya ada nama produk tapi tertulis kecil. Hem, diterima dengan haru. Saat mengambil kunci, selalu berdampak. Omzetpun naik tajam.

2. Seorang dokter anaknya tunggal. Teramat sayang. Saat ultah anaknya. Jam 7.30 pagi mau berangkat ke kantor saya antar mobil – mobilan ala kadarnya. Kado ultah. Ke rumahnya. Berlinang air matanya. Malamnya saya ditraktir makan bersama.

Sebelumnya susah minta jadwal, terlalu sibuk. Pasiennya ekstrim banyaknya. Selain jadi pengurus IDI di daerahnya dan aktif kegiatan sosial kemasyarakatan, juga agamis. Kenanya karena hubungan emosional. Obatku pun rutin ditulis di resep hingga refleks.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *