Wed. Jan 14th, 2026

Neraca perdagangan pangan ke pangan Indonesia. Masih minus. Apalagi jika tiada sawit, makin parah sekali. Pendek kata devisa sektor pertanian dominan dari sawit.

Banyak kontribusinya barang impor pangan menguras devisa. Rutin jangka panjang jumlah makin besar. Minimal Rp 300 triliun/tahun nilai impor pangan. Sekalipun negeri besar agraris.

Pangan bahan mentah per tahun misalnya, gandum 12 juta ton, gula 4 juta ton, kedelai 3 juta ton, bawang putih 600.000 ton, daging dan sapi setara 1,5 juta ekor dan lainnya.

Pangan impor produk olahan jadi dan setengah jadi. Misal puree buah (ekstrak), powder buah. Ragam olahan kelapa, sekalipun kita ekspor kelapa glondongan miliaran butir.

Sebaliknya juga banyak ekspor buah manggis, salak, mangga, pisang, nanas dan masih banyak sekali. Tapi tetap nilai ekspor pangannya kalah dibanding nilai impornya. Ini mesti diwaspadai saat krisis.

Sesungguhnya, ini semua hanya manifestasi akibat saja. Sekali lagi, hanya akibat saja. Sehingga menimbulkan cemas saat resesi global 2023. Sebabnya karena politik belum optimal berpihak.

Solusi taktisnya :

1. Iklim usaha pangan harus merangsang masyarakat agar makin banyak partisipannya. Iklim usaha bagian dari produk kebijakan politik, kewajiban negara. Jangan ingkar dengan karakter agrarisnya.

2. Iklim usaha meliputi infrastruktur di sentra produksi dan pengembangannya. Inovasi harus membumi. Bunga bank rendah dan mudah didapat. Tata niaga berpihak ke pelaku usaha, bukan berpihak ke importir.

3. Jika pelaku usaha dapat perhatian maka akan produktif (terberdayakan). Imbasnya masyarakat produktif mendongkrak pendapatan per kapita, menekan kemiskinan dan stunting. Kekayaan alam terkelola oleh anak bangsa.

4. Jika iklim usaha berpihak maka harga pokok produksi (HPP) rendah. Biaya murah hasilnya berlimpah. Jika biaya dibagi volume hasil jadi indeks (HPP) rendah. Maka kompetitif dan laba tambah. Pelaku sejahtera dan betah. Negara dapat pajak dan devisa.

5. Kelembagaan pelaku usaha dibina. Misal antara industri dengan masyarakat plasma, ironis jika industri terus impor bahan baku atau happy dari kebunnya sendiri. Eksportir dirangkai dengan para petani produsen agar ada kepastian pasar.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *