Ini hal penting bagi kawula muda perintis bisnis. Dalam dunia bisnis, sudah sangat lazim jika tidak bisa bersinergi agar win – win solutin. Lalu terjadi proses persaingan bisnis. Kalau kalah maka tidak lestari bisnisnya, karena cashflow terganggu, dampak dari produknya kalah berkompetisi.
Standar persaingan selalu karena ” kebutuhan dan keinginan ” pasar, meliputi 5K dan 1H artinya kontinuitas, kualitas, kuantitas, kecepatan, ketepatan dan harga termurah. Dari 5K dan 1H yang paling sering mematikan lawan adalah kualitas baik dan harga murah. Ini pemenangnya dalam persaingan bisnis.
Kemenangan bersaing pada kualitas, umumnya karena percepatan adaptif terhadap tekonologi atau inovasi terkini. Sedangkan kemenangan bersaing dari segi harga, saat lomba murah bisa menang karena rendahnya harga pokok produksi (HPP). Ini juga dampak kreatif dan inovatif manusianya.
HPP pada hakikatnya biaya indeks per kilogram atau satuan ukur lainnya. Merupakan hasil bagi antara semua biaya yang timbul saat berproduksi dengan volume yang didapatkannya. Makin rendah biaya yang timbul, secara bersamaan makin banyak volume produksinya.
Maka HPP nya makin rendah. Sehingga makin besar potensi kemenangan dalam persaingannya. Lalu berdampak makin besar penjualan, makin fast moving produknya, makin tinggi omzetnya, makin besar kumulatif labanya dan makin pesat majunya usaha tersebut.
Contoh ;
- Kilang Padi.
Bisa menjual beras lebih murah jangka panjang dalam berebut pasar potensialnya. Karena mampu menekan HPP kumulatifnya. Bekatulnya diekstrak diambil minyaknya yang sangat bermanfaat dan mahal. Kulit ari beras juga diambil karena banyak manfaat vitamin B12 bahan baku industri pangan bayi dan lainnya. Sekam padi diambil silikanya.
Implikasinya pada HPP produk sangat rendah. Karena kumulatif biaya produksi yang rendah, saat bersamaan menghasilkan varian produk turunan yang banyak jumlahnya. Bisa menentukan segmentasi target posisi (STP) pemasaran lebih leluasa. Harga jual murah saat bersaing harga di pasar, jadilah pemenang.
- Peternakan Sapi dan Ikan.
Karena harga di pasaran relatif sama, stabil tertekan. Tiada kompetisi harga. Tapi permintaan pasar sangat besar rutin jangka panjang. Maka bukan berusaha menaikkan harga, melainkan berusaha menekan biaya produksi agar laba tambah dan volumenya konsisten besar.
Sadar betul setelah di breakdown ternyata biaya penyerta produksi terbesar adalah dari pakan hingga 65%. Maka yang dilakukan adalah mencari pakan bermutu semurah mungkin yang kontinuitasnya terjaga. Dengan pakan murah maka laba tambah besar, karena mengurangi komponen biaya 65% tersebut.
Begitulah cara yang dilakukan oleh RRC selama ini. HPP nya ditekan seminimal mungkin agar bisa bersaing harga di pasar global manapun juga. Hingga akhirnya pabrik produsen alat berat Excavator, Buldozer dan lainnya di Eropa banyak yang omzetnya drop lalu gulung tikar.
Begitu juga produk elektronik, kosmetik dan tekstil di banyak negara termasuk Indonesia banyak yang terancam bangkrut. Apalagi didukung oleh aspek 4 K lainnya kontinuitas, kuantitas, kecepatan dan ketepatan dalam melayani dengan teknologi dunia maya. TikTok misalnya.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630