Wed. Jan 14th, 2026

Data BPS, jumlah petani 40 juta, proporsi angkatan kerja 29,8%, rerata pendapatan petani hanya Rp 2,23 juta/bulan dan miskin rentan miskin 49,8%. Data Sensus Pertanian, jumlah petani muda 12% dari total petani dan alih fungsi lahan pertanian teknis 110.000 ha/tahun.

Hasil penelitian Prof Farida Guru Besar IPB, hanya 27% orang tua petani yang ingin mewariskan profesi ke anaknya. Jumlah sarjana pertanian arti luas terbanyak di dunia, adanya di Indonesia. Sejak reformasi penurunan minat kawula muda studi di bidang pertanian.

Kedaulatan pangan Indonesia makin terancam dengan ditandai data BPS yang disampaikam Ibu Megawati bahwa impor pangan di atas Rp 300 triliun/tahun. Volume impor makin meroket pada impor gula 5,8 juta ton/tahun padahal dulu 1930 an Nusantara penghasil gula terbesar ke 2 di dunia.

Jumlah impor sapi dan daging kerbau lembu setara 2,1 juta ekor sapi jantan bobot 350 kg/tahun padahal dulunya ekspor sapi. Bawang putih dulunya kita swasembada tapi saat ini hampir 100% impor dengan jumlah 650.000 ton/tahun. Begitu juga impor gandum telah menggerus pangsa pasar beras nasional 28% dengan jumlah impor 13 juta ton/tahun.

Dari data di atas memberikan pesan permasalahan pangan makin menggurita dan berimbas ke masalah lain. Butuh serius segera diatasi. Tidak bisa lagi hanya diatasi dengan menghilangkan gejala/simptomatic saja misal bansos subsidi atau impor. Harus diatasi dengan sebab/causatic nya yang dituntaskan yaitu kebijakan politik pertanian.

Pesan dari data tersebut di antaranya ;

  1. Jika mau mengatasi kemiskinan yang dianggap sulit. Sesungguhnya tidak juga. Karena kemiskinan dan rentan miskin ada di masyarakat pertanian yaitu 49,8 % dari 40 juta petani. Atau sekitar 20 juta petani mesti dapat solusinya oleh kebijakan politik makro. Sebab utamanya analisa BPS karena rendahnya aset petani yaitu sawah 0,3 ha/KK ada 14 juta KK (Sensus Pertanian).
  2. Sangat wajar jika orang tua berprofesi petani hanya 27% yang ingin mewariskan profesi petani. Karena yang dirasakan jadi petani sulit dapat kesejahteraan dan kemakmuran. Wajar juga anak muda sangat sedikit jadi petani karena pemandangan tiap hari petani ” tidak menjanjikan ” kesejahteraannya.
  3. Implikasinya nilai impor pangan makin meroket itu juga sangat wajar saja. Hanya akibat saja. Akibat dari kurangnya jumlah petani muda intelektual dan kurangnya daya dukung luas lahan yang memadai. Secanggih apapun ilmu teknologinya, jika sawahnya hanya 0,3 ha/KK dengan anggota 4 orang. Lalu ditanam padi jagung kedelai (pajale), maka mustahil bisa sejahtera. Tetap rentan miskin.
  4. Kalkulasi logisnya dalam setahun lahan 0,3 ha hanya akan dapat gabah 2 ton, jagung 2 ton dan kedelai 6 kwintal. Ini setara dengan Rp 50 juta. Labanya 30% setara Rp 15 juta/KK/tahun atau Rp 1,3 juta/bulan. Artinya kalau pemerintah terus merangsang petani dengan lahan 0,3 ha/KK agar menanam pajale sama dengan tega melihat mereka tetap rentan miskin turun temurun.

Solusinya, pemerintah yang dibekali APBN di atas Rp 3.000 triliun punya sikap visioner tak ubahnya di Timur Tengah, RRC, Ethiopia dan lainnya. Perluasan daya dukung lahan pertanian intensif berkelanjutan. Konkretnya kita punya lahan jutaan hektar gundul berpasir tandus ilalang di Kalteng.

Jika dijadikan sawah dengan embung geomembran bahan tandan kosong sawit plus remediasi lahan. Maka akan dapat air sepanjang tahun. Bisa menanam padi sangat luas lagi dan produksinya jutaan ton bisa untuk solusi puluhan tahun ke depan yang jumlah penduduk makin tambah banyak. Ini bisa terwujud jika Politisi berpihak mewujudkan petani modern inovatif lahannya luas.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *