Wed. Jan 14th, 2026

Sangat menyenangkan. Penuh inspirasi. Semalam saya diantar sahabat sesama Alumni Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, ke Pabrik Fillet Ikan, khususnya dominan Ikan Patin. Yang kebetulan Ownernya perusahaan tersebut juga Alumni Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Sungguh, kita patut bersyukur hidup di Indonesia ini. Surga dunia agribisnis. Dari semua perusahaan serupa semuanya kekurangan bahan baku ikan patin, luar biasa. Mau meningkatkan kapasitas saja takut tidak dapat bahan baku. Mau menyetujui orderan dari luar negeri, juga ditolak karena kekurangan bahan baku ikan patin yang mau difillet jadi Dori.

Walaupun di pasar global Fillet Dori Ikan Patin dirajai oleh Vietnam dan Brazil. Tapi Indonesia sangat besar potensinya jika mau mengejar kekalahannya. Masalahnya hanya mau atau tidak kita mencetak pelaku usaha ikan patin lebih banyak dan massal di mana – mana. Tidak harus jadi sarjana perikanan dulu.

Karena pemilik pabrik fillet ikan patin di daerah Rungkut Surabaya tersebut juga bukan sarjana perikanan. Tak ubahnya saya juga, punya usaha ternak sapi dan ikan patin, juga bukan sarjana perikanan atau sarjana peternakan atau dokter hewan. Yang penting bermental mau memulai dan berkarakter bisa dipercaya.

Pabrik fillet ikan patin yang saya kunjungi cari ilmu lapangan tersebut. Kapasitas produksinya 100 ton/bulan plus ikan mahal selain patin. Prediksi saya omzet minimal Rp 50 miliar/tahun. Mengkaryakan 150an orang dan plasma peternak ikan patin sebagai suppliernya tentu ratusan kepala keluarga. Semua produktif.

Konkret jadi lokomotif perekonomian masyarakat. Jadi pembayar pajak jumlah besar dan rutin jangka panjang. Karenanya ratusan kepala keluarga punya pendapatan dan itu buat belanja pangan, sandang dan papan. Otomatis warung, toko, dealer motor dan properti ikut tumbuh juga dibayar dari uang gajiannya.

Terbayang oleh saya jika ada 10.000 orang lagi sekalibernya. Punya karyawan 150 orang dan 600 an plasma peternak ikan patin. Maka tercipta lapangan kerja 10.000 x (150 + 600)= 7,5 juta orang. Hampir habis pengangguran kita yang 8,9 juta jiwa (BPS).

Terbayang oleh saya juga, bahwa lahan 1 ha jika dijadikan kolam ikan patin. Luas lahan 1 hektar setara 10.000 meter. Jika 20% nya atau 2.000 meter jadi infrastruktur pematangnya, maka luas kolam bisa 8.000 meter, bisa jadi beberapa kolam. Sesuai selera dan topografi maupun agroklimatnya.

Maka potensinya 8.000 meter x 30 ekor/meter x 80% angka hidup (SR) x 1 kg/ekor/tahun x Rp 20.000/kg harga = Rp 3,84 miliar/tahun. Jika laba 30% maka setara Rp 1 miliar/tahun. Jika dimiliki 3 kepala keluarga, sudah makmur sejahtera. Jika pakan dan benih dikelola oleh BUMDes maka makin sempurnalah ekonomi kerakyatan tersebut.

Akan mudah jadi kenyataan mimpi di atas jika tiap Perguruan Tinggi punya target melahirkan pengusaha. Yang akan memberdayakan kawula muda di sekitar dan alamnya yang teramat kaya raya di Indonesia ini. Indonesia Surga Dunia, bukan lagi sekedar syair lagu pengantar tidur belaka.

Maka semua akan sibuk produktif, bukan sibuk membuat narasi dan video hoax karena tahun politik. Yang dulunya numpang hidup karena menganggur, jadi mandiri. Yang saat ini angka kemiskinan dan rentan miskin di 40 juta petani ada 49,8% akan berubah total. Karena angkatan kerja di pertanian sangat dominan 29,8% (BPS).

Lalu apa sebabnya ya, banyak pengangguran hingga 8,9 juta. Saat bersamaan banyak permintaan pasar termasuk di pasar global. Saat bersamaan pula Tuhan telah memberi anugerah kekayaan alam ada gunung berapi biasanya di pangkal banyak sumber air tiada henti.

Banyak tanah liat putih (clay) pH netral sangat ideal jadi kolam ikan patin. Kok ikan patin saja kita kalah dengan Vietnam. Lalu, karena banyak yang tidak mau berusaha akhirnya pendapatan per kapita dan daya beli kita, tiada setengahnya dari Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Di mana letak masalahnya ?

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *