Empiris.
Sebagian orang berpendapat bahwa waktu adalah aset milik semua orang. Teramat mahal, karena tiada tergantikan.
Bahkan jika saat kurang produktif, lalu ada pernyataan dengan kalimat, ” Tenang saja masih banyak waktu, banyak kesempatan “.
Itu sesungguhnya hanyalah kalimat penghibur belaka. Atau mencari pembenaran, agar benar di lain waktu.
Sejak saya baca buku motivasi hal ” Manajemen Waktu “. Sedapat mungkin bisa saya terapkan di lapangan. Keseharian.
Contoh.
Selama 5 tahun sejak 1995 s/d 2000 an. Sibuk jadi prajurit militer, tapi juga bisa usaha beberapa komoditas. Hanya membagi tugas dan waktu. Mendelegasikan.
Di antaranya, beras, karung bekas, pinang, kayu teh, sekam padi, cangkang sawit, ikan mas, batu kapur dan pembibitan tanaman hias.
Karena banyak pekerjaan, maka harus melibatkan orang banyak yang ahli di bidangnya. Tinggal bagaimana caranya agar terkendali. Semuanya.
Karena butuh waktu banyak secara bersamaan, maka dikelola bersama dengan orang yang punya banyak waktu, pekerja atau mitra usaha misalnya.
Sebaliknya, jika semua dikelola sendiri. Baik waktu yang terbatas saat pekerjaan banyak. Itulah sesungguhnya pangkal lamban tumbuhnya usaha atau sebab gagalnya usaha.
Pendek kata tiada manusia super. Adanya tim super. Bersinergitas untuk membangun dan menjaga produktivitas kolektif. Berpartisipasi. Melibatkan diri dalam proses menuju sukses.
Mengelola sumber daya manusia hebat dan aset pihak lain. Agar pemiliknya produktif, agar ada sebagian untuk kita. Itulah bisnis, menambah laba dan manfaatnya bagi orang lain.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630