Presiden Jokowi menyampaikan dengan tegasnya bahwa kita sudah dijajah secara ekonomi. Hanya hitungan bulan saja, pembeli rakyat Indonesia 123 juta orang. Nilai transaksinya Rp. 11.200 triliun. Jangan sampai kita terlena lalu kita hanya jadi pasar saja, karena impor, kita bukan produsennya.
Pendapat saya secara pribadi, apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi di Lemhannas tersebut. Menyadarkan kita agar segera bangkit dan berbuat beda, agar hasilnya beda. Ibaratnya jangan sampai kita ibarat katak matang di rebusan wajan, sadarnya setelah matang.
Kenapa di era digitalisasi saat ini jika kita tidak siap berkompetisi maka akan pusing sendiri bahkan usaha rakyat jumlah massal akan mati. Konkretnya saja Tanah Abang, Pusat Grosir di Jakarta dan kota besar lainnya pada mati tutup. Kerugian teramat besar bukan hanya PHK saja, pengusahanyapun bangkrut massal.
Implikasinya? Daya beli sangat rendah jatuh ke bawah, karena tanpa pendapatan. Bahkan kewajiban rutin baik buat hidup maupun angsuran kredit bank untuk rumah dan kendaraan bisa terancam kena imbas jumlah massal. Kredit bank banyak macet, NPL bank naik. Moneter, likuitas bisa terganggu juga.
Apa sebabnya ? Karena daya saing kita teramat rendah. Daya saing SDM, produk dan iklim usaha serta iklim inovasi, tidak membumi. Daya saing rendah akibat harga pokok produksi (HPP) yang tinggi. Strategi dumping misalnya, mereka berani membakar dana demi dapat data perilaku konsumen, mereka skill memasarkan beragam strategi.
Ditambah lagi beban biaya hidup yang mahal. Karena pangan impor harga tergantung negara asal. Untung saja masih ada negara yang mau ekspor pangannya, jika tidak ? Pangan mahal berdampak pada upah mahal. Praktis semua produk juga HPP nya mahal, lalu dijual mahal. Kalah bersaing di dunia maya. Tik Tok misalnya.
Apa solusinya ?
Mari kita belajar ke negara yang 42 tahun lalu silau dengan Indonesia. Negara tersebut puluhan tahun silam angka kemiskinannya 94%, yang jadi kambing hitam jumlah penduduknya terlalu banyak dan lahannya tidak sesubur di Indonesia. Negara tersebut RRC.
Hal mendasar yang dilakukannya adalah tegas terhadap
- Koruptor manusia super jahat. Tiada tawar menawar hukumannya. Karena betul – betul diharamkannya. Tegas dengan keteladanannya. Beda dengan di kita, seolah yang merusak bangsa kita bukan karena kebodohan rakyatnya, tapi jahatnya para oknum pemimpinnya.
- Transformasi pemuda desa, utamanya para sarjana digiring agar jadi pelaku usaha, agar jadi manusia pembayar pajak jumlah banyak rutin untuk APBN nya jumlah massal. Agar cipta lapangan kerja jumlah banyak menekan pengangguran. Agar pendapatan per kapita naik, kemiskinan berkurang dari 94% jadi 4% saat ini.
- Iklim usahanya sangat diperhatikan. Karena ini penyebab semangatnya para pelaku usaha. HPP bisa rendah agar semua produknya kompetitif. Puluhan tahun silam membangun bendungan raksasa jadi irigasi dan PLTA di banyak tempat, jalan dan pelabuhan dibangun massal dan cetak sawah diutamakan. Sekalipun saat itu modal uang hutang.
- Iklim riset dan inovasi membumi. Dulunya RRC dapat protes dari banyak negara karena tukang meniru inovasi negara lain. Barang asli inovasi ditiru rekayasa sedikit, dijual murah massal. Me too, aspal asli tapi palsu. Tapi negaranya melindungi. Sambil riset sendiri, tapi wajib dikomersialisasi agar jadi ” market leader ” mendunia. Bukan disimpan di lemari seperti di kita.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630