Thu. Jan 15th, 2026

Empiris.
Selama 3 hari terakhir ini, tiap hari saya kedatangan tamu. Semua tamunya isinya hanya dominan mengeluh, menyalahkan keadaan dan orang lain. Termasuk tamu tentara.

Tiada yang berkisah kiprahnya telah banyak ditiru oleh masyarakat sekitarnya yang termasuk dari bagian solutif konkret. Karena pantas dikembang luaskan. Akibat inovatif menukik bumi.

Menyimak keluhannya. Misal katanya pupuk kimia mahal, pupuk subsidi terlalu sedikit, banyak impor hasil bumi jadi sebab demotivasi, sulit mencari teman mau diajak jadi praktisi petani muda dan lainnya.

Saya jawab lugas saja. Bukan Indonesia saja yang menghadapi masalah serupa. Semua negara di atas bumi ini masalahnya sama. Bahkan mendingan Indonesia jumlah produksi berasnya terbanyak ketiga di dunia.

Hebatnya lagi, negara lain tidak punya kebun porang massal hingga beras dan mie instan dari porang. Indonesia berlimpah. Hingga tadi malam sengaja saya ajak tamu saya makan mie porang. Agar tahu tamu saya perwira TNI sahabat saya tersebut.

Hehehe..
Mereka tamu saya pada kaget. Ternyata porang enak tenan. Sehat dan terpenting bukan impor menguras devisa. Karya petani kita. Karya industriawan porang kita. Karya hasil riset para pakar kita. Bersinergis.

Tiada maksud membusungkan dada. Saya kisahkan beberapa hal yang telah saya lakukan. Untuk ambil peran dalam mengantisipasi masalah pangan ke depan. Selain ajak – ajak anak muda, dari kampus ke kampus juga dan ke masyarakat sekitar.

Konkretnya lahan tandus sisa pembalakan kayu dan penambangan saya remediasi. Mengembalikan kesehatan dan kesuburan lahan. Lalu ditanam berbagai tanaman yang menghasilkan. Ada nilai ekonominya.

Jadi lapangan kerja masyarakat. Caranya permukaan tanah dihampar limbah organik kohe sapi atau tankos sawit, lalu disemprot pupuk hayati biang mikroba Bio Extrim dan hormonal Hormax, formula karya sendiri. Misal tanaman sawit, pisang dan rumput pakan sapi hasil riset (inovasi).

Hasilnya luar biasa. Banyak yang meniru. Karena yang saya kisahkan konkret inovasi kreasi membumi. Bukan teori dan teori melulu. Bukan bicara saja. Fakta. Bukan hanya petani peternak saja yang berkunjung ke kebun maupun kandang sapi milik saya. Juga perusahaan dan mahasiswa.

Intinya, tiada guna kita hanya cari kambing hitam menyalahkan keadaan dan orang lain. Saatnya, masyarakat butuh solusi konkret dari suri tauladan. Agar terkolektif jadi solusi negeri kita sendiri. Idealnya dikomandani oleh para pemimpin dan pemikir (ilmuwan) bangsa ini.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *