Thu. Jan 15th, 2026

Hubungan antara Indonesia dan Eropa akhir – akhir ini sungguh membuat kening kita berkerut. Karena makin menunjukkan gejala tidak baik. Bisa perang dagang.

Konkretnya ;

1. Sawit Indonesia, masuk daftar hitam (blacklist) yang tidak boleh diperdagangkan di Eropa. Termasuk semua produk turunannya. Sungguh sangat menyakitkan.

Walaupun bukan sawit saja. Masih ada sapi, kedelai, kopi dengan segala produk turunannya. Dianggap merusak lingkungan, utamanya hutan.

Pasar CPO Indonesia ke Eropa hanya 4 s/d 5 juta ton/tahun setara 10% dari total produksi CPO nasional. Tidak banyak, tapi merusak citra nama baik Indonesia.

Apalagi sawit tulang punggung ekonomi Indonesia. Devisanya minimum Rp 550 triliun/tahun. Lapangan kerja terserap 16 juta KK.

Terpenting Eropa membabi buta, tanpa melihat lapangan. Bahwa banyak lahan tandus akibat gundul pembalakan puluhan tahun silam, maupun akibat penambangan.

Bisa kembali hijau lestari produktif berkat sawit. Bisa kita lihat pada video drone berikut perbandingan antara kebun sawit dan lahan tandus yang mau ditanam sawit di lokasi kebun saya pribadi.

Sama persis tahun 1995 an, Eropa juga melarang memakai produk turunan kelapa Indonesia. Dianggap sumber penyakit jantung dan kolesterol.

Tapi saat ini sebaliknya, produk turunan dari kelapa misal VCO, minyak goreng dan lainnya diidolakan. Saat kelapa kita sudah terbengkalai dampak kampanye hitam Eropa.

2. Nikel Indonesia, disengketakan oleh Eropa di WTO dan menang pula itu. Karena kebijakan dilarang ekspor bahan mentah oleh pemerintah Indonesia.

Eropa ribut di WTO karena akan mengancam bahan baku industrinya. Mereka sadar Indonesia penghasil nikel terbesar di dunia dan nikel makin dibutuhkan dunia.

Indonesia punya cadangan nikel 52% dari total cadangan nikel sedunia. Jumlah produksi nikel Indonesia sekitar 37% dari total produksi nikel dunia. Eropa silau melihat data fakta ini.

Pusing berat jika Indonesia punya industri inovasinya. Ancaman sangat serius bagi ekonomi Eropa jangka panjang jika tanpa dihadang gerakan Indonesia.

Juga patut dipertanyakan, kenapa Eropa tiada pernah protes hal penambangan nikel, tembaga dan lainnya. Kaitan lingkungan hidup misalnya. Kenapa hanya sawit dan kelapa saja.

Eropa masih suka ke GR an merasa superior. Menganggap Indonesia inferior karena bekas jajahannya. Ini kuncinya. Hentikan kampanye hitam dan mau diadu domba Eropa.

Sikap tegas Presiden Jokowi memang membuat peta ekonomi global berubah total. Dari nikel dulunya hanya Rp 15 triliun, kini mendekati Rp 400 triliun/tahun.

Hanya karena hilirisasi inovasi industri saja. Tentu jika berlanjut alamat Eropa akan gigit jari tanpa bahan baku industrinya, bisa jadi Eropa miskin dadakan.

Ini kajian arus kas Eropa dan neraca perdagangannya. Pendek kata rezeki Eropa jangka panjang ratusan triliun per tahun dari nikel akan pindah ke Indonesia.

Meradanglah Eropa. Indonesia juga kecewa, tidak suka dibodoh – bodohi terus oleh Eropa. Saatnya dinolkan impor dari Eropa. Agar Eropa sadar Indonesia telah berubah.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *