Empiris.
Beberapa hari lalu saya mengisi kuliah umum di salah satu perguruan tinggi swasta tertua dan papan atas di Jawa Timur. Tentang entrepreneurship (kewirausahaan).
Semua peserta mahasiswa tingkat akhir. Pada sesi diskusi ada mahasiswa bertanya, jika mau jadi pengusaha bagaimana jika diawali saat sudah punya modal banyak.
Jawaban saya, sengaja dengan ilustrasi agar dipikir sendiri. Dianalisa dengan daya nalarnya. Merangsang kesadaran dengan tidak langsung, melalui kasus per kasus.
Ilustrasi.
Seseorang ingin jadi pembalap, mulai belajar nyopir mengendarai mobil. Jika sudah punya mobil sendiri yang bagus. Misal Mercy, BMW, LC Turbo dan lainnya. Bukan dengan apa adanya.
Apakah dengan begitu pasti sukses. Apakah justru tidak terlalu banyak pengorbanannya. Misal mobil mahal tertabrak – tabrak ke sana kemari. Itulah yang terjadi pada startup saat ini.
Sebaliknya para pengusaha sukses didominasi dari modal cekak. Ilmu seadanya apa yang dipunya sambil mencari di jalanan saat menjalani usaha. Tinemune ilmu kanthi laku.
Karena pada hakikatnya pengusaha/wirausahawan/pebisnis/praktisi bernuansa praktik. Nuansa eksekusi aksi atas ilmu pengetahuan teknologi dan inovasi hingga jadi terampil.
Artinya siapa saja yang memulai maka dialah pemilik peluang sukses sebesar 50% dan peluang gagal 50% juga. Tapi jika tidak memulai hanya dapat peluang gagal 100%.
Jika diulangi lagi saat gagal, disempurnakan langkah ulangannya maka peluang suksesnya makin besar lagi. Diulangi lagi, maka makin besar lagi. Terus dilakukan lagi, belajar dari salah dan benar sebelumnya.
Kesimpulan ;
1. Yang melakukan pada kesempatan pertama maka dialah pemilik peluang terbesar suksesnya jadi praktisi.
2. Yang terus menunda dan menunda, apalagi hingga rencananya berulang tahun maka peluangnya jadi praktisi sukses, makin jauh.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630