Empiris.
Beberapa orang yang ikut bekerja di tempat usaha saya yang datang dari Jawa ke Pangkalan Bun Kalteng, bekas bangkrut. Artinya ekonominya jatuh.
Jatuhnya ekonomi (gagal/bangkrut) karena arus kas dan neraca keuangan keluarga minus. Tidak sehat. Multi sebabnya, bisa eksternal atau internal.
Kondisi tersebut sangat tidak baik. Rusaknya ekonomi keluarga bisa menjadikan sebab rusaknya kesehatan anatomi, fisiologi dan psikologi keluarga.
Harus segera disehatkan dengan cara diseimbangkan antara pendapatan dan penerimaan keuangan. Bisa karena besarnya pengeluaran tapi rendahnya pendapatan.
Contoh ;
1. Pendapatan tetap, tapi pengeluaran naik tinggi akibat sedang proses pendidikan putra – putrinya di perguruan tinggi terbaik di luar negeri. Demi masa depannya jauh lebih baik lagi.
2. Pendapatan turun drastis, akibat dari salah taksasi penilaian suatu pekerjaan. Lalu bukan laba yang didapat, justru kerugian besar memakan modal usaha. Padahal biaya hidup tetap berjalan.
Dasar kondisi itu, saya mengajak ” bekerja sama ” membangun ekonomi. Dengan niat baik (nawaitu) dan bersungguh – sungguh niscaya berhasil (Man Jadda Wajada/Bahasa Arab).
Konkretnya, menunggu dan mengurus kebun saya. Pada jam kerja. Sebelum dan sesudah ” jam kerja “. Dimanfaatkan menanam hortikultura yang mudah dipasarkan (marketable).
Sungguh sangat saya syukuri, berjalan hanya beberapa tahun saja kami ” bersama – sama melahirkan kemampuan ” untuk pada bangkit dari kebangkrutan. Anak – anaknya pada selesai studinya.
Bukan hanya itu saja. Utangnya di Jawa pada lunas. Dan dulunya numpang lahan dan rumah. Sekarang mereka sudah punya kebun dan rumah sendiri. Usaha milik saya pun total terurus dengan baik.
Hal menarik adalah kiatnya. Melakukan intelijen bisnis ke pelabuhan dan pasar hortikultura apa saja yang masih didatangkan dari Jawa, berapa banyak jumlah dan berapa harganya.
Data dikumpulkan, dikompilasi dan dianalisa dengan cermat fisibelitasnya. Setelah tahu persis estimasi cashflow nya. Barulah mereka menanam. Sehingga risiko bisa diminimalkan atau difiksasi.
Ilmu hikmahnya, sekalipun kondisi sudah minus aset. Tapi jika mampu ngulir pambudi memberdayakan diri. Kerja sama lahir kemampuan. Maka semua akan berubah baik. Karena kita sebagai insan sentosa adanya.
Tuhan tiada kan mengubah nasib umat-Nya, jika umat tersebut tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri. Sebaik – baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Yang punya niat baik dan bersungguh – sungguh yang menuai hasilnya.
Kuncinya harus konsisten dengan niat dan penjabaran pada 3 ruas yaitu di pikiran, perkataan dan perbuatan kecerdasan lapangan praktiknya. ( Manacika, Wacika dan Kayika pada Tri Kaya Parisudha/Bahasa Sansekerta).
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630