Empiris.
Tahun 2009 s/d 2010, saya sempat punya usaha ” Majalah Bangkit Tani “. Ruang lingkupnya edukasi, inspirasi dan motivasi hal dunia usaha maupun pertanian.
Salah satu edisi, mengurai menurunnya animo anak muda belajar pertanian di SLTA dan Perguruan Tinggi, sejak 1999 s/d 2009. Era Reformasi. Sangat memprihatinkan.
Hingga banyak SLTA Pertanian dan Fakultas Pertanian kurang peserta didik yang baru. Yang berdampak banyak SLTA Pertanian dan Fakultas Pertanian tutup atau menyatukan prodinya.
Kala itu, saya membuat kajian analisa sangat detail berbasis data riil. Legal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keresahan hati terhadap kondisi bangsa tertuang apa adanya. Tanpa keraguan.
Jika kekurangan anak muda pada ruas waktu tertentu. Pasti berdampak serius, 15 s/d 25 tahun berikutnya, pasca pendidikannya. Apalagi soal pangan adalah soal hidup matinya sebuah bangsa (Bung Karno, IPB, 1952).
Misal saat ini jadi mahasiswa maka 15 s/d 25 tahun lagi baru terasa dampak hebatnya. Konkretnya, peneliti hebat saat ini adalah wisudawan 20 tahun silam, pemimpin hebat juga dan praktisi pun sama wisudawan 20 tahun silam.
Hipotesa ramalan hasil analisa saya tersebut saya tuangkan dalam Majalah Bangkit Tani, terbitan tahun 2009, isinya bahwa :
1. Indonesia sejak 15 tahun setelah tahun 2000 atau sejak tahun 2015 akan kekurangan ” pemimpin, pemikir dan praktisi hebat “. Sebagai dampak dari minimnya animo anak muda belajar pertanian 15 tahun sebelumnya.
2. Indonesia sejak 2015, terdampak kekurangan pemimpin arsitektur pembangunan ekonomi pertanian pangan untuk menjawab kebutuhan masa depan. Hasil inovasi membumi kurang, akibat kurang pakarnya. Apalagi praktisi inovatifnya.
3. Indonesia sejak 2015, akan kekurangan jumlah produksi pangan. Yang solusinya impor pangan makin melambung tinggi. Baik pangan utama maupun substitusi misal gandum dan susu bubuk. Dampak langsung dari kurangnya jumlah praktisi inovatif.
Alternatif solusinya, tiada guna menyalahkan masa lalu. Biasanya tiap generasi selalu punya solusinya. Tapi bijaknya sebuah generasi mengantisipasi langkah – langkah untuk generasi berikutnya. Meminimalkan membuat warisan bermasalah ke anak cucu.
Ibarat tanaman, menanamlah untuk generasi setelah kita ( Naghrisu Liman Ba’dana /Bahasa Arab).
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630