Thu. Jan 15th, 2026

Tulisan ini hanya satu sudut pandang saja. Khususnya dipandang dari kacamata bisnis. Lebih fokus lagi betapa dahsyat kekuatan dari ilmu pemasaran jika dipraktikkan dengan cara bijak cerdas.

Sudah empat kali, saya menjumpai diskusi di grup media sosial. Yang membahas tingginya pendapatan artis. Bahkan dibandingkan ilmuwan yang lulusan pasca sarjana strata 3. Doktor atau PhD.

Saya membaca saja geli. Karena komentarnya beragam. Lucunya lagi dikait – kaitkan dengan pendidikan formal. Antara artis dan ilmuwan. Padahal bukan bandingannya. Tidak bisa dibandingkan.

Prinsip, tiada kan mungkin produsen film atau iklan. Akan mau memberi imbalan dana banyak hingga miliaran per bulan jika tiada produktif, kepada siapa pun juga. Termasuk kepada artis kecil. Artis tiada pendidikan formal tinggi.

Sekali lagi, adanya diberi imbalan tinggi, karena jasanya tinggi. Karena pantas. Karena kembali modal, plus laba. Jika tidak diberi imbalan sepadan, justru akan rugi. Karena kabur, tidak mau lagi. Itu cost & benefit analysis nya.

Kadang tanpa disadari bahwa banyak juga ilmuwan yang jadi artis. Jadi bintang iklan sebuah produk misalnya. Ini juga pasti dapat imbalan dana besar dari jasanya sebagai bintang iklannya. Fakta harus disadari.

Ada lagi, seorang ilmuwan tanpa jadi artis. Tapi justru produk hasil risetnya yang membumi terkomersilkan jadi inovasi. ” Itu yang jadi artis banyak dipakai oleh masyarakat luas. ” Royaltinya juga sangat besar rutin jangka panjang.

Contoh ;

Produk – produk tertentu sebelum dipopulerkan oleh acara artis populer. Omzet dan labanya biasa saja. Tapi setelah diiklankan melambung ratusan kali lipatnya. Beda nyata antara sebelum diiklankan dan sesudah diiklankan.

Dasar data empirik itulah sebagian omzetnya diberikan secara langsung atau tidak langsung ke artis tersebut. Melalui penerapan ekonomi metriks. Agar laba tetap sehat, karena arus kas yang baik dari jasa iklan.

Artinya harus lebih dewasa lagi. Menanggalkan perasaan, sebagai kelas istimewa dibandingkan lainnya. Karena di mata pengusaha pemilik perusahaan, hanya yang menghasilkanlah yang berhak dapat sebagian hasilnya. Linier sifatnya.

Bill Gates hanya berpendidikan D2. Tapi oleh masyarakat seisi dunia dikatakan sukses. Dengan beragam variabelnya. Tiada kan mungkin juga ada yang berani sembrono mengatakan bahwa Bill Gates hanya karena faktor kebetulan atau keberuntungan belaka.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *