Thu. Jan 15th, 2026

Bulan ini diputuskan impor beras 500.000 ton saja. Sudah jadi kegaduhan publik. Tapi yang impor gandum hingga 11 juta ton/tahun adem ayem saja, padahal itu setara devisa minimal Rp 77 triliun kapital terbang.

Kalau menyimak data 15 tahun terakhir jumlah impor gandum naik tajam. Luas sawah, luas tanam padi dan volume produksi beras juga relatif sama. Bahkan swasembada beras. Artinya pangsa pasar beras makin diambil oleh gandum.

Data lain lagi, daya beli masyarakat yang tidak mampu memenuhi pangan bergizi 68% setara 183,7 juta penduduk. Bahkan provinsi NTT sebagai sentra sapi yang tidak mampu mengakses pangan bergizi menurut Kompas sebanyak 78% dari penduduknya.

Data fakta di atas menandakan harga pangan naik mahal pada saat daya beli turun. Implikasinya pada stunting kita yang masih 24% dan kemiskinan ekstrim banyak jumlahnya, termasuk di DKI sekalipun APBD nya sangat besar.

Tahun 2018, Menteri Pertanian menargetkan tahun 2023 Indonesia harus swasembada sapi. Ini pernyataan lipstik, tidak terukur. Tanpa portofolio dan dasar ekonomi matriks. Karena impor daging dan sapi akan setara 1,6 juta ekor pada tahun 2023.

Pangan pemicu naiknya inflasi masih banyak yang kita impor. Misal gula 4 juta ton/tahun, kedelai 3,2 juta ton/tahun, bawang putih 0,6 juta ton/tahun. Artinya sangat tergantung dari negara lain. Jika dinaikkan harganya makin terbebani. Jika distop maka makin berbahaya.

Saat pandemi covid 19, lockdown di banyak negara sumber gula, kedelai dan sapi. Yang terjadi harga gula Rp 23.000/kg, inflasi naik tajam. Industri tahu tempe demo, mengurangi produksi. Ini berdampak pada kecukupan protein masyarakat, kontributor stunting.

Balita stunting adalah pemilik suramnya masa depan. Karena lebih kerdil dari orang tuanya dan umumnya masyarakat. Rentan sakit. Retardasi mental. Kurang kooperatif, apalagi produktif. Untuk menghidupi dirinya sangat berat karena sakit – sakitan sepanjang hidupnya.

Kondisi ini semua hanyalah manifestasi akibat saja. Dari sebab kurang serius mengurus pangan Indonesia yang cukup selalu ada, bermutu dan terjangkau kompetitif dibanding barang impor. Era globalisasi, antar negara nyaris tanpa batas soal perdagangan.

Sebab utamanya ada 2 aspek yaitu :

  1. Kurangnya jumlah praktisi produsen pangan, ini peran pendidikan agar bernyali dan berjiwa entrepreneur. Misal impor gula 4 juta ton setara hasil panen 700.000 ha, jika 2 ha/kk. Kurang 350.000 KK petani tebu. Impor daging dan sapi setara 1,5 juta ekor, setara Rp 30 triliun. Setara milik 600.000 peternak jika 1 peternak Rp 50 juta/tahun.
  2. Kurangnya dukungan iklim usaha yang mutlak kewajiban pemerintah. Agar merangsang hadirnya praktisi dan mampu berkompetisi. Misal bunga bank masih tinggi tidak serendah di luar negeri hanya 2%, infrastruktur pedesaan agar mudah air dan ongkos kirim rendah cepat sampai, tata niaga belum berpihak melindungi ke produsen dan lainnya.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *