Empiris.
Pada bulan Agustus 2022, saya ke Thailand. Di sana harga beras sangat bervariasi. Ada yang sangat murah tapi juga ada yang mahal, misal beras organik hingga Rp 35.000/kg. Kesemuanya sama lakunya, sesuai segmentasi pasarnya.
Pengalaman kami. Sudah sekitar 8 tahun ini kami sekeluarga, orang tua dan mertua. Saya kondisikan hanya mengkonsumsi beras organik. Ini wujud apresiasi moral maupun material bagi petani organik. Demi petani berprestasi. Pecinta inovatif organik.
Beras organik karya petani kita yang peduli lingkungan hidup dan kesehatan bagi dirinya sebagai petani maupun konsumennya. Yang membebaskan dari pemakaian bahan kimia logam berat dari pestisida dan herbisida. Profesi ini sangat mulia di mata kami sekeluarga besar.
Kalkulasi logis beban bagi konsumen terhadap beras organik. Asupan/kapita/tahun maksimal 100 kg. Harga beras organik maksimal Rp 25.000/kg. Total Rp 2,5 juta/kapita/tahun atau hanya Rp 6.000 an/kapita/hari.
Kalkulasi logis bagi kesejahteraan petani beras organik. Jika 0,3 ha/KK petani tanam 2 kali/tahun. Lazimnya dapat 6 ton GKP/ha x 2 musim tanam/tahun x 0,3 ha/KK x 55% rendemen beras x Rp 25.000/kg = Rp 50 juta pendapatan petani/tahun luas 0,3 ha.
Artinya bagi masyarakat menengah ke atas jika dibangun kesadaran mengkonsumsi beras organik sangat membantu kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungan yang sehat. Semua jadi sehat. Ekonomi sirkular terjabarkan di lapangan.
Petani sehat dan ekonomi sejahtera, lalu semangat mengembangkan pangan organik. Masyarakat akan tereduksi pemakaian bahan kimia logam berat berbahaya. Yang bagi balita bisa jadi retardasi mental jika residunya tinggi.
Terbayang oleh saya, jika 30% penduduk Indonesia mengkonsumsi beras organik. Akan setara dengan 10 juta ton kebutuhan per tahunnya. Setara hasil panen luas tanam 3,3 juta hektar. Setara milik 5 juta KK petani akan sejahtera.
Dampak pada kesehatan dan kesuburan lahan sawah organik. Setara 3,3 juta : 2 = 1,65 juta hektar sawah. Flora fauna akan kembali bahagia bisa berbiak massal di persawahan. Misal cacing dan belut. Ikan dan bebek bisa hidup produktif di padi sawah organik.
Dampak bagi kesejahteraan petani akan berubah total. Yang biasanya non organik hanya Rp 9.000/kg berubah jadi Rp 25.000/kg. Petani padi tidak lagi jadi kontributor kemiskinan Indonesia. Artinya sawah 0,3 ha/KK tanam 2 kali omzetnya Rp 50 juta/tahun.
Saya pribadi, selaku petani. Punya harapan sangat besar kepada masyarakat luas utamanya bagi yang ekonominya menengah ke atas. Agar punya kesadaran mulai mengkonsumsi beras organik. Toh anggarannya hanya Rp 6.000/orang/hari.
Walaupun hanya segitu, tapi sangat berarti bagi keluarga petani kita. Agar petani kita sehat sejahtera, semangat berkarya untuk pangan sehat kita. Ingat dan berdoalah untuk petani saat makan, itu pesan bijak dari Vietnam. Bisa dibayangkan jika 3 hari saja, tanpa ada beras. Terima kasih petaniku. Rahayu.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630