Empiris.
” Menjadi praktisi/pengusaha itu sangat sulit. Apa lagi mendidik orang lain agar jadi praktisi, itu lebih sulit lagi. Jika mudah mungkin populasinya, bukan hanya 3,41% dari penduduk Indonesia, ideal minimal 5% saja. Sulit sekali. “
” Jika pekerjaan itu dianggap mudah. Yang bicara saja suruh membuktikan sendiri. Bisa atau tidak. Jangan hanya maunya agar dianggap hebat, padahal itu hanya ngeles saja. ” Itu ujar Ketua Prodi di Perguruan Tinggi Hebat.
Begitulah ringkasan pendapatnya. Saat saya mau mengajar di Kampus. Tentang Entrepreneurship. Sepanjang perjalanan dari Bandara hingga sampai Kampus kami diskusi kecil tapi bermutu tinggi.
Selain itu, dikeluhkan juga. Betapa sulitnya mencari pengusaha yang mau berbagi kiat – kiatnya berbisnis sejak awal hingga usaha bisa running well. Mungkin terlalu sibuk, rahasia usaha dan faktor lain lagi.
Padahal mahasiswa sangat butuh, termasuk dosennya. Proses mengawali dan menjalani usaha penuh dinamika. Uang SPP sekolah praktisi teramat mahal karena harus membiayai kegagalan demi kegagalan agar dapat ilmu di balik gagalnya.
Agar makin sempurna langkahnya. Harus berani gagal dan terus jalan lagi. Kepekaan intuisi/naluri bisnisnya, linier dengan jam terbangnya mengelola usaha. Begitu juga memprediksi situasi yang akan terjadi.
Pengalaman saya pribadi mengasuh kawula muda. Yang sedang berproses mendirikan perusahaan dan memulai usaha. Tiada hari saya tanpa berinteraksi dengan banyak kelompok anak muda mau jadi pengusaha. Saya ikhlas. Bangga. Syukur bisa berbagi.
Mereka pejuang meniadakan pengangguran, karena mau cipta lapangan kerja. Pejuang membesarkan APBN melalui pajak besarnya rutin. Pejuang kemandirian bangsanya. Pejuang mendongkrak pendapatan per kapita.
Masalah paling mereka pusingkan saat saya minta agar ;
1. Membuat kajian latar belakang, ruang lingkup usaha mau ditekuni, sumber pembiayaan dan rencana mendapatkannya, strategi taktik menjalankan dengan target terukurnya agar mudah dievaluasi pencapaiannya.
2. Disiplin, konsisten dengan rencana kegiatan. Leadership pengendalian dan kajian daya nalar analisis timnya. Manajemen peluang dan risiko. Begitu juga dalam mengelola tim ragam keahlian agar loyal satu misi.
Namun demikian, sungguh patut disyukuri akhir – akhir ini makin banyak anak muda membentuk tim. Mendirikan perusahaan, memulai usaha. Ini patut diacungi kedua jempol. Sangat terasa beda nyata jauh antara lulusan perguruan tinggi dengan yang bukan.
Minimal dalam berinteraksi. Diskusi bisnis. Mereka sadar betul, andaikan 10% saja dari pengangguran jadi pengusaha. Maka akan setara meniadakan total pengangguran. Jika mereka merekrut 10 orang tiap pengusaha.
Yang pasti, bukan mengumpulkan dana dulu agar punya modal untuk usaha (bisnis). Yang benar adalah berbisnislah dulu agar punya modal dana terkumpul. Juga bukan harus pintar dulu agar bisa berusaha, yang benar segera awali usaha agar cepat pintar dan mengelola para orang pintar.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630